Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Cara Publikasi Artikel Ilmiah di Jurnal Nasional Terakreditasi DIKTI

Pada postingan ini, saya ingin membagikan informasi terkait cara publikasi artikel ilmiah di jurnal nasional terkareditasi dikti. Judul postingan saya kali ini mungkin sedikit berbeda dengan judul postingan lainnya. Saya tidak membuat judul postingan yang mengandung kata-kata “Cara cepat”, “Cara Singkat”, ataupun “Cara mudah”. Alasannya adalah tidak ada yang Namanya “Cara cepat”, “Cara singkat”, ataupun “Cara mudah” dalam melakukan publikasi di jurnal nasional terkareditasi DIKTI.

Postingan ini dibuat berdasarkan pengalaman saya sebagai author, pengelola jurnal, dan terakhir sebagi layouter (yang merangkap editor) pada seminar internasional yang baru saja digelar di FKIP Unsyiah. Sebagai author, saya telah melakukan publikasi publikasi sebanyak 6 artikel pada tahun 2019. Secara rinci, artikel yang telah saya publikasikan adalah sebagai berikut; 1 artikel di prosiding nasional tidak terindeks, 2 artikel di prosiding internasional terindeks Web of Science dan Scopus, dan 3 artikel pada jurnal nasional dengan kategori Sinta 2. Pengalaman sebagai pengelola jurnal saya peroleh dari Jurnal Biologi Edukasi. Jurnal ini dikelola oleh Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Unsyiah. Selanjutnya, pengalaman layouter saya peroleh dari kegiatan AICMSTE tahun 2019. Berdasarkan pengalaman ini, saya berharap bisa membantu teman-teman dalam memberikan informasi yang komprehensif dan meningkatkan kepercayaan diri untuk publikasi di jurnal nasional terakreditasi Dikti.

Seperti yang telah teman-teman ketahui, salah satu persyaratan untuk lulus S2 pada saat ini adalah harus menerbitkan artikel ilmiah di jurnal ilmiah terakreditasi Dikti. Hal ini sesuai dengan peraturan pemerintah yang tertuang dalam SURAT DIRJEN DIKTI NO. 152/E/T/2012: Wajib Publikasi Ilmiah bagi S1/S2/S3 dan Surat Edaran Kemenristekdikti Nomor: B/323/B.B1/SE/2019 tentang Publikasi Karya Ilmiah Program Sarjana, Program Magister, dan Program Doktor. Para mahasiswa, terutama mahasiswa magister dan doktoral diharapkan agar menyiapkan artikel mereka sedini mungkin. Hal ini bertujuan untuk kelancaran proses sidang ataupun wisuda nantinya. 

Pada saat ini, sistem akreditasi jurnal nasional menggunakan sistem pengindeks Science and Technology Index (SINTA). Informasi ini tercantum dalam Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2018 tentang Akreditasi Jurnal Ilmiah. Sistem akreditasi Sinta membagi jurnal ke dalam 7 kelompok, mulai Sinta 1 sampai dengan 6 dan tidak terakreditasi. Jurnal yang terakreditasi Sinta 1 biasanya sudah terindeks Scopus. Artinya, jurnal tersebut sudah termasuk ke dalam kategori jurnal internasional bereputasi.

Tampilan web SINTA
Tampilan web SINTA

Seiring dengan penerapan kedua peraturan tersebut (kewajiban publikasi dan akreditasi jurnal), pertumbuhan publikasi artikel ilmiah dan jurnal ilmiah terakreditasi semakin meningkat. Sayangnya, kesadaran dan pengetahuan author dalam publikasi ilmiah masih kurang. Masih banyak author, terutama mahasiswa, yang menganggap publikasi tersebut adalah syarat kelulusan saja. Sehingga, artikel yang mereka buat pun mengikuti kaidah “yang penting ada dan cepat tamat kuliah”. Hal ini pada akhirnya akan menyebabkan artikel yang telah dibuat memiliki kualitas yang kurang dan menyebabkan artikel sulit diterima jurnal ilmiah terakreditasi Dikti.

Dalam meminimalisir kemungkinan ditolak (reject), ada empat hal yang harus kalian perhatikan dengan seksama, yaitu memperhatikan tujuan dan ruang lingkup jurnal, proses review dari jurnal, menyesuaikan template dan format penulisan di artikel, dan auto plagiasi serta double submit. Adapun penjelasan lebih lanjut mengenai keempat hal tersebut adalah sebagai berikut.

1. Tujuan dan ruang lingkup (Focus and Scope)

Jurnal yang sudah terakreditasi biasanya memiliki focus dan scope yang spesifik dan unik. Artinya, focus dan scope jurnal mereka berbeda dengan jurnal lainnya. Walaupun jurnal-jurnal tersebut sama-sama dalam kategori jurnal tertentu, misalnya Pendidikan IPA.

Focus dan scope jurnal merupakan salah satu aspek yang dinilai pada saat proses akreditasi jurnal. Hal ini menyebabkan para pengelola jurnal sangat selektif dalam menerima jurnal. Oleh sebab itu, sebelum melakukan submit jurnal, perhatikan terlebih dahulu kesesuaian antara tujuan dari artikel penelitian dengan focus dan scope jurnal target. Apabila terdapat ketidaksesuaian, maka kemungkinan artikel yang disubmit akan langsung ditolak oleh pengelolajurnal.

2. Proses review dari jurnal

Setiap jurnal yang telah disubmit akan melewati proses review. Proses review membutuhkan waktu yang bervariasi pada setiap jurnal. Biasanya, waktu yang dibutuhkan untuk proses review jurnal adalah dua bulan atau 8 minggu. Oleh sebab itu, setelah melakukan submit jurnal, jangan langsung menghubungi pengelola jurnal untuk menanyakan kapan artikel tersebut akan terbit. Berbeda kasusnya apabila kalian menginginkan LoA bukti artikel kalian diterima untuk diterbitkan. Biasanya, jurnal akan memasukkan permintaan kalian ke dalam proses fast track review.

3. Format penulisan dan template jurnal

Beberapa jurnal juga memberikan petunjuk mengenai aspek apa saja yang harus dimasukkan dalam bagian template jurnal. Misalnya, pada bagian pendahuluan, pengelola meminta aspek research background, state of the art, ataupun perkembangan konteks artikel secara global harus tersedia atau diperjelas dalam bagian pendahuluan. Author harus menyiapkan aspek tersebut agar meminimalisir kemungkinan artikel untuk ditolak.

Setiap jurnal juga memiliki karakteristik format penulisan yang berbeda. Untuk memudahkan author dalam menyiapkan artikel, mereka telah menyediakan template jurnal dalam bentuk file Word (.doc). Oleh sebab itu, author harus melakukan perlu copy paste isi artikel mereka ke dalam template tersebut.

Selain memperhatikan format penulisan pengelola jurnal juga menentukan format sitasi dan meminta para author untuk menggunakan software reference manager, misalnya Mendeley, Zotero, atau EndNote. Adapun cara penggunaan software tersebut dapat dibaca pada beberapa link berikut.

4. Auto plagiasi dan double submit

Auto plagiasi adalah melakukan plagiat artikel milik author sendiri. Hal ini dapat terjadi ketika author melakukan double submit jurnal. Kapan author melakukan double submit jurnal?

Salah satu kebiasaan author yang tidak baik adalah melakukan submit secara mendadak tanpa memperhatikan tiga aspek yang telah disebutkan di atas, terutama proses review artikel jurnal. Akibatnya, mereka upload terlebih dahulu, baru membaca scope, format penulisan, dan proses review. Akibatnya, mereka harus menarik artikel yang baru saja disubmit. Double submit terjadi ketika author melakukan submit ke beberapa jurnal secara bersamaan.

Perlu diperhatikan bahwa jurnal yang telah disubmit secara otomatis akan direcord oleh system dan tidak dapat di cancel atau di hapus oleh author. Hanya pengelola jurnal saja yang dapat melakukan penarikan jurnal yang telah disubmit author. Oleh sebab itu, sebelum melakukan submit artikel ke jurnal lain, author harus menghubungi pengelola jurnal awal untuk meminta penarikan jurnal artikel yang telah disubmit.

Hal lain yang tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan adalah waktu peninjauan atau penarikan artikel. Apabila author ingin melakukan penarikan artikel, maka harus menghubungi pengelola jurnal sesegera mungkin. Hal ini dilakukan untuk menghindari artikel yang telah disubmit masuk ke proses review. Apabila artikel sudah masuk ke tahap proses review, ada baiknya author tidak melakukan penarikan artikel. Hal ini bertujuan untuk menghindari masuknya nama author ke dalam daftar hitam (blacklist) author di jurnal tersebut. Tentu saja hal ini sangat merugikan para author dan author lainnya yang Namanya tercantum dalam artikel yang telah disubmit.

Demikianlah informasi yang dapat saya sampaikan. Semoga informasi ini dapat meningkatkan kepercayaan diri teman-teman dalam menulis artikel ilmiah dan terhindar dari penolakan artikel oleh pengelola jurnal . Terkait dengan informasi mengenai peraturan pemerintah yang telah saya sebutkan sebelumnya, kalian bisa membaca lebih jelas mengenai peraturan tersebut di halaman web berikut:
Hendra Yulisman
Hendra Yulisman Alumni LPDP PK 41 - Catureka Mandala. Seorang Pengajar yang sedang Belajar. Softcore gamer. Sangat tertarik dengan IT, Mikrobiologi dan Media Pembelajaran.

Post a Comment for "Cara Publikasi Artikel Ilmiah di Jurnal Nasional Terakreditasi DIKTI"