Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Untung Manusia Tidak Sama Dengan Ayam

Untung Manusia Tidak Sama Dengan AyamManusia dan ayam sama-sama makhluk Allah SWT yang tinggal di muka bumi. Layaknya manusia, ayam juga memiliki kebiasaan-kebiasaan tertentu, yang jika kita perhatikan maka akan membuat kita sadar dan bersyukur kepada Allah SWT.

Di dalam biologi, ilmu yang mempelajari tentang kebiasaan-kebiasaan makhluk hidup ini dikenal dengan Ethology. Ethology merupakan matakuliah baru di jurusan kami, dan saya pun sedang mengambil matakuliah ini. Yang perlu kamu ketahui, Ethology sangat berhubungan dengan matakuliah lain, seperti Ekologi Hewan, Biologi Umum, dan bahkan Fisiologi Hewan. Oleh karena hubungan Ethology dengan matakuliah lain sangat erat itulah, para dosen kami apik dalam menerangkannya. Saya yang semula tidak terlalu tertarik dengan Ethology, malah berubah menjadi sangat mencintainya (bukan rayuan gombal).

Kembali ke judul, “Untung Manusia Tidak Sama Dengan Ayam”. Sebenarnya, apa sich kebiasaan kebiasaan ayam yang membuat kita sebagai manusia beruntung karena tidak mengikutinya????? Jawabannya adalah kebiasaan “keluarga ayam” makan. Nah, bagi kamu yang kebetulan memiliki sebuah “keluarga ayam” di rumah, perhatikan bagaimana urutan mereka makan. Sebelum itu, “keluarga ayam” yang saya maksudkan disini adalah sebagai berikut:

  1. 1 ekor induk Ayam Jantan
  2. 1 ekor induk Ayam Betina
  3. Beberapa ekor anak ayam yang masih kecil.
  4. Beberapa ekor anak ayam yang sudah agak besar, kalau di manusia, kita kenal dengan remaja, istilah bekennya ABG, atau negatifnya Ababil.

Sekarang, menurut kamu, ayam mana yang pertama akan makan ketika kamu pertama sekali melempar makanan kepada mereka??? Mungkin, sebagian besar akan menjawab dengan urutan seperti ini:

  1. Induk Ayam jantan
  2. Induk Ayam betina
  3. Ayam remaja (ababil)
  4. Anak ayam

Jika urutan yang kamu pikirkan seperti jawaban saya di atas, maka maaf, kamu salah. Setelah saya mendengar penjelasan dosen dan sudah mengamati sendiri, maka urutan yang benar adalah seperti ini:

  1. Anak Ayam
  2. Induk Ayam Betina
  3. Induk Ayam Jantan
  4. Ayam remaja (ababil)

Penjelasan:

Sebenarnya, jika ayam-ayam ini belum membuat sebuah keluarga, maka urutannya mungkin seperti yang pertama tadi, yaitu induk ayam jantan yang akan makan pertama. Namun, karena si Induk Ayam Jantan ini sudah sadar dengan kewajibannya ketika sudah berkeluarga, maka ia merelakan posisinya kepada si Induk Ayam Betina. Seperti yang kita ketahui, “Surga terletak di bawah telapak kaki ibu”, maka hal ini juga berlaku pada ayam, maka si Induk Ayam Betina pun merelakan anak-anaknya duluan yang makan.

Hubungan dengan keberuntungan manusia???

Jika kamu benar-benar teliti membacanya, kamu pasti akan bertanya-tanya, Jadi kapan si Ayam Remaja makan??? Nah, itulah letak kesengsaraan si ayam remaja ini. Kadang si Ayam remaja ini harus memakan sisa-sisa makan keluarga tadi, atau bahkan kadang-kadang harus bertarung dulu dengan si Induk Ayam Jantan. Yah, cara ini memang harus mereka tempuh ketika perut sudah sangat tidak bersahabat lagi.

Bagaimana jika kejadian ini berlaku pada manusia??

Sungguh akan hancur moral negara kita, terutama Aceh.

Pada saat dosen saya selesai bercerita, ada teman saya yang mengatakan seperti ini, “Begitulah kejadian di luar negeri, remaja di didik untuk mandiri, dan bahkan keluarganya terkadang melarang mereka untuk tidur di rumah”.

Darimana si teman saya ini dapat pemikiran seperti ini!!!. Apakah kamu juga berpikiran seperti itu??? Kalau iya, berarti kita harus berdiskusi dan meninjau ulang pemikiran kamu.

Seperti yang sudah diketahui, Remaja merupakan tahap untuk menemukan jati diri, tahap paling rawan, mudah di ajak, dan belum benar-benar tahu yang mana yang benar dan yang mana yang salah. Tahap remaja merupakan tahap yang sangat penting dalam pertumbuhan pola pikir keluarga. Untuk itulah, keluarga merupakan faktor penting dalam membuat dan mengatur rambu-rambu pemikiran remaja ini. Dan tentu saja, semua rambu-rambu itu harus sesuai dengan syariat Islam. Ingat!! Bagaimana kepribadian Ali bin Abi Thalib yang dari remaja sudah tinggal bersama Rasulullah, beliau ini sangat teguh pendiriannya.

Jadi, apabila seorang remaja itu bebas mencari jati dirinya, dan tidak ada pengawasan keluarga, maka dapat kita bayangkan apa yang akan terjadi, dan akan teguh di hati mereka. Yang salah mereka anggap benar, dan yang benar mereka anggap penghalang. Nauzubillah.

Untuk itu, marilah kita sama-sama bersyukur, karena pada saat ini, walaupun tidak 100%, para orang tua di Indonesia, dan Aceh khususnya, masih sangat peduli dengan perkembangan anak-anaknya. Dan bagi kamu para anak-anak, bersyukurlah, karena orang tua, ataupun keluarga dan lingkungan tempat tinggal kamu, masih peduli pada perkembangan pola pikir kamu. Janganlah menganggap semua itu beban. Selama sesuai dengan tuntutan Syariat, ikutilah. Insyaallah, kamulah pemimpin yang diberkahi Allah Kelak. Amin.

Hendra Yulisman
Hendra Yulisman Alumni LPDP PK 41 - Catureka Mandala. Seorang Pengajar yang sedang Belajar. Softcore gamer. Sangat tertarik dengan IT, Mikrobiologi dan Media Pembelajaran.

Posting Komentar untuk "Untung Manusia Tidak Sama Dengan Ayam"