Showing posts with label Biotechnology. Show all posts
Showing posts with label Biotechnology. Show all posts

Metode Sterilisasi Kimia dalam Mikrobiologi

Di dalam mikrobiologi, sterilisasi merupakan proses yang sangat penting untuk dipelajari. Pada pembahasan sebelumnya, saya sudah membahas mengenai metode sterilisasi panas dalam mikrobiologi. Pembahasan kali ini merupakan lanjutan dari metode sterilisasi panas tersebut. Metode sterlisasi kimia dilakukan pada alat dan bahan yang sensitif terhadap panas. Biasanya, alat dan bahan tersebut akan rusak jika disterilkan pada suhu tinggi.

Jenis-jenis Agen Antimikroba Kimiawi berdasarkan Keefektifannya

Kemampuan agen antimikroba kimiawi dikelompokkan berdasarkan efisiensinya dalam membunuh suatu mikroorganisme. Misalnya, seluruh agen germisida dikelompokkan dalam kategori tingkat tinggi karena efektif membunuh seluruh bentuk mikroorganisme, termasuk endospora bakteri. Agen kimiawi dengan kategori sedang didefinisikan dengan tuberkuloisidal karena mampu membunuh Mycobacterium tuberculosis dan umumnya efektif terhadap kebanyakan virus yang resisten seperti virus hepatitis dan rhinovirus. Agen kimiawi dengan kagori sedang ini tidak efektif dalam membunuh endospora bakteri. Agen kimiawi dengan kategori rendah tidak bersifat tuberkuloisidal, tidak efektif terhadap endospora bakteri, beberapa jenis spora fungi, serta naked virus (virus yang tidak memiliki amplop).
Metode sterilisasi kimia dapat dilakukan dengan menggunakan gas (fumigasi atau pengasapan) dan radiasi. beberapa bahan kimia yang dapat digunakan untuk sterilisasi gas adalah etilen oksida, gas formaldehid, asam parasetat, dan glutaraldehid alkalin. Sterilisasi kimia dapat juga dilakukan dengan penggunaan cairan desinfektan berupa senyawa aldehid, hipoklorit, fenolik, dan alkohol.

Mengenal Disinfektan Cair

Disinfektan cair memiliki daya antimikroba yang rendah dibandingkan dengan metode sterilisasi yang lain. Bakteri pembentuk spora dan beberapa virus resisten terhadap sterilisasi jenis ini. Beberapa disinfektan akan ternetralisir oleh bahan organik. Stabilitas larutan terbatas dan waktu penggunaan juga terbatas pada jenis disinfektan dan bagaimana cara disinfektan itu digunakan. Penggunaan disinfektan cair sebagai alat sterilisasi harus mempertimbangkan hal tersebut, begitu juga dengan hal keamanan bagi penggunanya. Disinfektan yang telah diencerkan dapat digunakan untuk disinfeksi ruangan dan peralatan. Biasanya, disinfeksi menggunakan cairan akan dilanjutkan dengan metode sterilisasi lainnya. Disinfeksi menggunakan cairan juga biasa dilakukan pada media yang sudah dipakai, lalu merebus media tersebut sampai mendidih, barulah media itu boleh dibuang ke lingkungan. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi pencemaran lingkungan yang mungkin bisa disebabkan oleh mikroorganisme pada media pertumbuhan mikroorganisme hasil penelitian kita.
Penggunaan disinfektan cair pada sterilisasi cawan Petri
Penggunaan disinfektan cair pada sterilisasi cawan Petri

Metode Sterilisasi Menggunakan Filterisasi dan Radiasi

Pada pembahasasan sebelumnya, saya sudah membahas mengenai metode sterilisasi panas. Pada pembahasan kali ini, saya akan membahas metode sterilisasi menggunakan filterisasi (penyaringan) dan radiasi. Salah satu contoh penggunaan metode sterilisasi  menggunakan filter dapat kalian lihat di LAF (Laminar Air Flow). Selanjutnya, contoh penggunaan metode sterilisasi menggunakan radiasi adalah penggunaan sinar UV di tempat pengisian air ulang. Jika kalian sering melihat ada lampu warna ungu di alat penyulingan air isi ulang, kemungkinan lampu tersebut adalah lampu UV yang berfungsi untuk membunuh mikroorganisme yang ada di dalam air. Tapi penting untuk kalian ketahui, tidak semua lampu ungu itu lampu UV yang mampu membunuh mikroorganisme.

Sterilisasi Menggunakan Filter

Seperti yang sudah saya kemukakan sebelumnya, salah satu contoh penggunaan metode sterilisasi menggunakan filter terdapat pada alat Laminar Air Flow. Metode sterilisasi menggunakan filter digunakan untuk mensterilkan bahan yang sensitif dengan panas, misalnya enzim. Membran filter yang digunakan untuk mensterilkan enzim biasanya terbuat selulosa asetat.  Prinsip kerja metode sterilisasi menggunakan membran selulosa asetat adalah memisahkan mikroorganisme dengan bahan yang bahan yang kita perlukan. Ada beberapa hal yang harus kalian ketahui mengenai penggunaan metode sterilisasi menggunakan membran selulosa asetat, seperti biayanya yang mahal, membrannya mudah tersumbat, dan kemungkinan lolosnya virus dari membran tersebut.
Selanjutnya, filter yang digunakan pada Laminar Air Flow adalah filter HEPA (high efficiency particulate air). Filter ini berguna untuk menyaring udara di area kerja mikrobiologis kalian dengan cara menyaring udara sehingga bebas debu dan mikroorganisme. Filter ini juga terdiri dari lipatan-lipatan selulosa asetat.
Penuangan media pertumbuhan bakteri menggunakan Laminar Air Flow
Penuangan media pertumbuhan bakteri menggunakan Laminar Air Flow untuk mencegah terjadinya kontaminasi

Sterilisasi Menggunakan Radiasi

Metode sterilisasi menggunakan radiasi dilakukan dengan menggunakan cahaya UV ataupun dengan menggunakan metode ionisasi (sinar gamma). Sinar UV dengan panjang gelombang 260 nm mampu berekasi dengan asam nukleat mikroorganisme. Sinar UV dapat menyebabkan terganggunya ikatan antara molekul-molekul timin yang bersebelahan dan menyebabkan terbentuknya dimer timin. Pada akhirnya, pembentukan dimer timin akan akan menghalangi replikasi DNA normal dengan menutup jalannya proses replikasi enzim. Dengan kata lain, sinar UV dapat merusak proses perkembangbiakan mikroorganisme, namun tidak berpengaruh pada endospora bakteri. Metode sterilisasi menggunakan radiasi biasa digunakan untuk mensterilkan ruangan.
Metode sterilisasi menggunakan ion (ionisasi) dapat mempenetrasi (menembus) jauh ke dalam suatu objek. Metode ionisasi yang sering digunakan adalah radiasi sinar gamma dari kobalt-60. Metode ini tidak dapat dilakukan di laboratorium biasa karena sifat dari sinar gamma sangat berbahaya bagi tubuh manusia. Sinar gamma lebih kuat daya tembusnya dibandingkan dengan sinar UV, sehingga cocok digunakan untuk mensterilkan bahan plastik sekali pakai, antibiotik, hormon, dan jarum suntik. Metode ionisasi ditujukan untuk merusak asam nukleat mikroorganisme.

Macam-Macam Mutasi pada Makhluk Hidup

Pada artikel sebelumnya, saya sudah membahas penyebab terjadinya mutasi. Pada artikel kali ini, saya akan membahas mengenai macam-macam mutasi yang dapat terjadi pada makhluk hidup, baik hewan ataupun tumbuhan. 
Pada dasarnya, mutasi dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu berdasarkan cara terjadinya mutasi, berdasarkan sel tempat terjadinya mutasi, berdasarkan gen, dan kromosom yang mengalami mutasi.

1. Mutasi Alami dan Mutasi Buatan

Berdasarkan cara terjadinya, mutasi dibedakan menjadi dua, yaitu mutasi alami dan mutasi buatan. Mutasi alami adalah mutasi yang terjadi dengan sendirinya tanpa diketahui penyebabnya. Seperti yang telah kalian ketahui, banyak sekali faktor yang dapat menyebabkan terjadinya mutasi di alam ini sehingga kesalahan saat berlangsungnya replikasi DNA sangat mungkin terjadi dengan sendirinya.
Mutasi buatan adalah mutasi yang terjadi secara di sengaja dengan cara menginduksi sel dari suatu organisme dengan suatu mutagen, misalnya radiasi atau bahan kimia tertentu. Seperti yang telah saya bahas sebelumnya, mutasi buatan banyak digunakan dalam bidang pertanian dan peternakan. Contoh hasil mutasi buatan di bidang pertanian adalah buah-buahan tanpa biji seperti semangka, jeruk, dan anggur tanpa biji serta buah-buahan berukuran jumbo.
Barbara McClinctock adalah sarjana genetika tumbuhan terkenal yang pertama kali berhasil melakukan mutasi induksi atau mutasi buatan pada tumbuhan dengan menggunakan kolkisin pada tahun 1930. Dia menyampaikan gagasan yang kemudian diakui kebenarannya bahwa ada bahan genetika yang dapat berpindah dari satu kromosom ke kromosom yang lain. Bagian yang dapat berpindah tersebut pada tahun 1984 disebut sebagai Transponson atau Jumping gene

2. Mutasi Somatik dan Mutasi Germinal

Berdasarkan tempat terjadinya, mutasi dibedakan menjadi dua yaitu mutasi somatik dan mutasi germinal. Mutasi yang terjadi pada sel-sel tubuh atau sel somatik maka disebut sebagai mutasi somatik. Jika mutasi terjadi pada sel-sel kelamin atau sel gamet maka disebut  dengan mutasi germinal.
Apabila mutasi terjadi pada sel somatik maka mutasi tersebut tidak akan diwariskan kepada keturunannya. Mutasi somatik ini dapat bersifat menguntungkan atau merugikan. Contoh mutasi somatik yang menguntungkan adalah mutasi buatan pada buah-buahan super jumbo, sedangkan contoh mutasi somatik yang merugikan adalah kanker kulit.
Apabila mutasi terjadi pada sel-sel gamet maka mutasi tersebut dapat diwariskan kepada keturunannya. Jika mutasi pada sel gamet menghasilkan sifat dominan maka sifat yang mengalami mutasi tersebut akan langsung terekspresikan (tampak atau terlihat) pada keturunannya. Jika mutasi pada sel gamet menghasilkan sifat resesif maka ekspresinya akan tersembunyi pada individu.

3. Mutasi gen

Mutasi yang terjadi pada tingkat gen atau pada tingkat DNA disebut dengan mutasi gen atau mutasi titik. Mutasi gen dapat dibedakan menjadi 3, yaitu mutasi karena adanya perubahan letak nukleotida atau basa nitrogen, penggantian pasangan nukleotida, dan penambahan atau pengurangan nukleotida.

1. Perubahan Letak Nukleotida 

Mutasi ini diakibatkan oleh nukleotida-nukleotida pada untai DNA mengalami pertukaran tempat yang menyebabkan perubahan urutan nukleotida di dalam DNA. Misalnya, urutan nukleotida pada suatu untai DNA adalah AUG AAG UUU GGC GCA UUG UAA, pada urutan nukleotida tersebut ada nukleotida yang mengalami pertukaran tempat yaitu C bertukar tempat dengan G sehingga urutan nukleotida pada daerah tersebut menjadi AUG AAG UUU GCG GCA UUG UAA. Hal tersebut dapat berpengaruh terhadap urutan urutan asam amino pada polipeptida yang akan terbentuk nantinya.

2. Penggantian Pasangan Nukleotida

Pada mutasi ini terjadi penggantian satu nukleotida dan pasangannya oleh nukleotida yang lain. Mutasi ini terdiri dari dua macam yaitu transisi dan transversi. Transisi merupakan penggantian satu nukleotida dalam untai DNA dengan nukleotida lain yang sejenis dan terjadi secara reversibel, Misalnya purin digantikan purin (adenin digantikan guanin) atau sebaliknya dan pirimidin digantikan pirimidin (timin digantikan sitosin) atau sebaliknya. Transversi merupakan penggantian satu nukleotida dengan nukleotida lain yang tidak sejenis, yaitu purin diganti dengan pirimidin atau sebaliknya pirimidin diganti purin dan adenin atau guanin digantikan timin atau sitosin dan sebaliknya.

3. Penambahan atau Pengurangan Nukleotida

Penambahan atau pengurangan satu nukleotida pada suatu gen dapat menimbulkan dampak yang besar pada protein yang dihasilkan. Hal ini karena penambahan atau pengurangan satu nukleotida akan menyebabkan adanya perubahan urutan suatu kodon pada RNA-d sehingga asam amino yang terbentuk menjadi berubah. Mutasi ini disebut juga frameshift mutation.
Apabila mutasi gen terjadi pada intergenic region atau intron maka mutasi tersebut tidak akan menghasilkan fenotip mutan. Lain halnya jika mutasi gen tersebut terjadi pada wilayah coding region atau urutan DNA yang akan diterjemahkan menjadi protein di dalam sel maka akan muncul fenotip mutan. Contoh mutasi gen dapat dilihat pada penderita hemofilia dan sicklemia. Pada penderita sicklemia terjadi perubahan asam amino ke-6 penyusun hemoglobin sel darah merah. Pada hemoglobin sel darah merah normal asam amino ke-6 adalah glutamat sedangkan pada penderita sicklemia adalah valin. Hal tersebut dapat mempengaruhi kemampuan sel darah merah dalam mengikat oksigen.

4. Mutasi Kromosom

Mutasi kromosom disebut juga aberasi kromosom. Mutasi kromosom meliputi perubahan pada jumlah, ukuran, dan organisasi kromosom. Mutasi kromosom tersebut dapat berlangsung dalam berbagai cara. Misalnya, bagian dari kromosom dapat patah dan hilang pada saat mitosis atau meiosis. Kadang-kadang bagian kromosom yang patah atau hilang tersebut bergabung kembali dengan kromosom tetapi dengan cara yang salah atau bagian yang patah tersebut bergabung dengan kromosom yang bukan homolognya. Hal tersebut tentu saja dapat menimbulkan perubahan kode genetik pada gen-gen dalam kromosom.
Mutasi kromosom memiliki pengaruh lebih besar dibanding dengan mutasi gen. Mutasi kromosom mempengaruhi seluruh kromosom sedangkan mutasi gen hanya mempengaruhi gen-gen secara individu yanf terdapat di dalam kromosom. Mutasi kromosom dapat berupa perubahan struktur kromosom dan perubahan jumlah kromosom.

A. Perubahan Struktur Kromosom

Perubahan struktur kromosom dapat terjadi karena perubahan jumlah gen dalam pemotongan atau perubahan letak gen dalam kromosom. Perubahan jumlah gen dalam kromosom meliputi delesi dan duplikasi sedangkan perubahan letak gen dalam kromosom meliputi inversi dan translokasi.


1. Delesi

Delesi terjadi jika kromosom kehilangan sebagian segmennya. Hal ini terjadi karena bagian kromosom yang patah menghilang atau menempel pada kromosom lain. Contoh delesi adalah penyakit Cri Du Chat (tangisan kucing)  yang disebabkan oleh adanya delesi pada kromosom tubuh nomor 5. Penderita Cri Du Chat biasanya tidak berumur panjang. Penderita Cri Du Chat memiliki suara tangisan seperti suara kucing dan mengalami keterbelakangan mental. Selain itu, delesi juga dapat menyebabkan penyakit defisiensi enzim glukosa 6 fosfat dehidrogenase yang banyak ditemukan di Indonesia.

2. Duplikasi

Duplikasi terjadi ketika ada pengulangan sebagian segmen kromosom sehingga suatu segmen kromosom bisa berada lebih dari satu kali dalam satu perangkat koromosom. Hal ini terjadi jika patahan suatu kromosom menempel pada kromosom lain. Contoh peristiwa duplikasi adalah gen molat dehidrogenase atau MDH mempunyai ukuran dan struktur molekul yang mirip dengan laktat dehidrogenase atau LDH. Para pakar menduga bahwa gen MDH merupakan hasil mutasi dari gen LDH setelah mengalami duplikasi. 

3. Inversi

Inversi terjadi ketika ada pemutarbalikan segmen kromosom. Inversi terjadi jika kromosom patah dan segmen yang patah bergabung kembali dalam keadaan terbalik. Jika segmen yang terbalik mencakup sentromer maka disebut dengan inversi perisentrik. Jika segmen yang terbalik tidak mencakup sentromer maka disebut dengan inversi parasentrik.

4. Translokasi 

Translokasi terjadi ketika ada perpindahan segmen kromosom dari satu kromosom sel kromosom yang lain. Jika pertukaran segmen terjadi antara dua kromosom nonhomolog maka disebut dengan translokasi resiprokal. Translokasi resiprokal ini merupakan bentuk yang paling umum. Segmen kromosom juga dapat berpindah ke lokasi baru dalam kromosom yang sama atau kelompok lain tanpa diikuti oleh perpindahan segmen dari kromosom yang lain. Perpindahan kromosom yang demikian itu dinamakan transposisi.

B. Perubahan Jumlah Kromosom

Jumlah kromosom pada sel makhluk hidup umumnya selalu tetap. Akan tetapi ada beberapa peristiwa yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan jumlah kromosom dalam sel makhluk hidup. Misalnya, proses pemisahan kromosom selama pembelahan sel terganggu sehingga kromosom mengalami gagal berpisah. Akibat dari peristiwa gagal berpisah tersebut adalah sel-sel yang dihasilkan ada yang kelebihan kromosom dan ada yang kekurangan kromosom bahkan ada juga sel anak yang tidak mendapatkan kromosom. Selain itu perubahan jumlah kromosom juga dapat disebabkan oleh adanya peristiwa pindah silang atau perubahan kombinasi kromosom.
Perubahan jumlah kromosom dapat berupa euploidi dan aneuploidi. Euploidi adalah perubahan seluruh set kromosom sedangkan aneuplodi adalah perubahan satu atau beberapa kromosom dalam satu set kromosom.

1. Euploidi

Euploidi meliputi monoploidi, triploidi tetraploidi dan poliploidi. Organisme monoploidi (n) adalah organisme yang hanya memiliki satu perangkat kromosom di dalam sel-sel nya. Contoh organisme monoploidi adalah lebah madu jantan karena lebah madu jantan tumbuh dari sel telur yang tidak dibuahi.
Organisme triploidi (3n) adalah organisme yang memiliki tiga perangkat kromosom di dalam sel somatiknya. Umumnya individu triploidi merupakan individu yang steril seperti semangka dan jeruk tanpa biji
Organisme tetraploidi (4n) merupakan organisme yang memiliki 4 perangkat kromosom di dalam sel somatiknya. Organisme tetraploidi biasanya bersifat fertil.
Organisme poliploidi biasanya memiliki lebih dari dua perangkat kromosom (2n). Misalnya triploidi (3n), tetraploidi (4n), heksaploidi (6n) dan oktaploidi (8n). Poliploidi umumnya terjadi pada tumbuhan dan jarang sekali terjadi pada hewan. Tumbuhan poliploid dapat dilihat pada tumbuhan budidaya jagung, kentang, gandum dan sebagainya

2.Aneuploidi

Aneuploidi meliputi nulisomik, monosomik, trisomik, dan tetrasomik. Organisme nulisomik (2n-2) adalah organisme yang di dalam sel-sel nya kehilangan 2 kromosom yang sejenis atau homolog. Organisme nulisomik memiliki peluang hidup yang sangat kecil.
Organisme monosomik (2n-1) adalah organisme yang kehilangan satu kromosom dalam perangkatnya. Misalnya hilang satu kromosom X pada manusia menyebabkan terjadinya sindrom Turner
Organisme trisomi (2n+1) adalah organisme yang memiliki kelebihan satu kromosom dalam sel-selnya. Misalnya, kelebihan kromosom X pada laki-laki akan menyebabkan terjadinya sindrom klinefelter. Komposisi kromosom pada penderita sindrom klinefelter tersebut adalah 44A + XXY. Selain itu kelebihan kromosom nomor 21 pada manusia menyebabkan Sindrom Down.
Organisme tetrasomik (2n+2) adalah organisme yang kelebihan dua kromosom sejenis.

Demikianlah yang dapat saya bahas. Terima kasih sudah membaca, semoga bermanfaat.

Cara Membuat Slide Culture

Slide Culture (Kultur Slide) merupakan teknik yang sangat penting dalam identifikasi fungi. Slide culture adalah teknik menumbuhkan fungi pada slide dengan perlakuan tertentu. Perlakuan yang dimaksud diantaranya adalah fungi ditumbuhkan pada sepotong agar dan di letakkan di atas kaca benda, peletakan tusuk gigi atau batang U (U-shaped glass rod) agar kaca benda tidak bersentuhan langsung dengan kertas tisu, dan pemberian aquades pada kertas tisu untuk menjaga kelembapan udara di dalam cawan Petri slide culture. Tujuan slide culture adalah melihat morfologi mikroskopis fungi, yang terdiri dari bentuk hifa, sporangium, konidia, dll.

Alat dan Bahan

Kultur

  • Koloni uji yang berumur 7-10 hari


Media Agar

  • Potato Dextrose Agar atau Saboraud Dextrose Agar


Alat

  • Cawan Petri steril
  • Kertas tisu steril
  • Tusuk gigi steril
  • Kaca benda dan kaca penutup steril
  • Scapel
  • Ose (inoculating loop)
  • Pinset
  • Bunsen
  • Mikropipet


Bahan

  • Pewarna Lactophenol cotton blue
  • Aquades steril
  • Alkohol 70% atau etanol 95%

Cara Kerja

Persiapan Sterilisasi Cawan Petri dan Media Agar

  1. Bersihkan cawan Petri
  2. Atur tisu sesuai dengan bentuk cawan Petri, lalu letakkan di dalam cawan Petri
  3. Bersihkan tusuk gigi, kaca benda, dan kaca penutup, lalu letakkan di dalam cawan Petri
  4. Bungkus cawan Petri tersebut lalu bungkus dengan kertas buram
  5. Untuk memudahkan, masukkan cawan Petri ke dalam kertas plastik yang telah dilubangi
  6. Masukkan ke dalam autoclave beserta media agar dan aquades
  7. Sterilisasi

Persiapan Cawan Petri untuk Slide Culture

  1. Potong media agar dengan ukuran 1x1 cm, atau sesuai dengan ukuran kaca benda. Disarankan untuk memotong agar dengan ukuran yang lebih kecil dari ukuran kaca benda
  2. Susun alat-alat di dalam cawan Petri dengan urutan sebagai berikut (dari yang paling bawah):
  3. Kertas tisu --> Tusuk gigi (disusun sejajar dengan jarak lebih kurang 1.5 cm --> Kaca benda (diletakkan bersilangan dengan tusuk gigi).

Pemindahan Isolat ke Cawan Petri

  1. Sterilkan scapel menggunakan bunsen, lalu ambil satu potong media agar
  2. Letakkan potongan tersebut di atas kaca benda
  3. Sterilkan ose menggunakan bunsen, lalu ambil isolat koloni uji
  4. Goreskan pada salah satu sisi potongan agar
  5. Lakukan hal yang sama pada ketiga sisi agar lainnya.
  6. Sterilkan pinset dengan menggunakan bunsen, ambil kaca penutup, lalu letakkan di atas potong agar
  7. Dengan menggunakan mikropipet, berikan beberapa tetes aquadest steril pada kertas tisu
  8. Tutup cawan Petri, lalu seal (bungkus sisi cawan Petri menggunakan plastic wrap)
  9. Simpan pada suhu ruang
  10. Diamati setiap 1x24 jam
Gambar Jamur Pada Slide Culture
Hasil slide culture


Pengamatan Hasil Slide Culture

  1. Bersihkan kaca benda dengan menggunakan alkohol
  2. Teteskan 2-3 tetes larutan lactophennol cotton blue
  3. Selanjutnya, teteskan 1-2 tetes alkohol
  4. Dengan menggunakan pinset, ambil kaca penutup pada cawan Petri slide culture
  5. Letakkan pada kaca benda yang telah ditetesi lactophennol cotton blue dan alkohol
  6. Amati menggunakan mikroskop

Gambar Jamur Hasil Pengamatan Menggunakan Mikroskop Pada Slide Culture
Hasil pengamatan menggunakan mikroskop
Terima kasih, selamat mencoba.

Apakah Mikroba ada di Udara?

Ketika bakteri hidup di udaraMikroba dapat hidup dimana-mana, di tanah, di air, bahkan di lingkungan ekstrim sekalipun, misalnya lingkungan bersuhu tinggi dan berkadar garam tinggi. Nah, yang menjadi judul postingan saya kali ini adalah apakah mikroba bisa hidup di udara… (??)
Yang Bertanya : Memangnya bisa??I don't know smile
Saya jawab : Baca dulu, nanti akan tahu sendiri jawabannyaSarcastic smile
Sebenarnya, udara bukanlah tempat hidup bagi mikroba. Namun, ada ditemukan flora mikroba yang ada di udara, dan itu bersifat sementara. Udara sendiri bukanlah medium untuk pertumbuhan mikroba. Namun, udara mengandung bahan partikulat, debu, dan tetesan air. Semua partikel yang dikandung oleh udara ini sangat memungkinkan untuk dijadikan “rumah sementara” oleh mikroba. Kandungan mikroba itu sendiri dapat berasal dari saluran pernafasan manusia (yang keluar ketika kamu batuk dan bersin), Air Conditioner yang jarang dibersihkan, dan lain-lain.
Untuk itulah sebabnya, ketika kamu flu, batuk-batuk, akan lebih bijak kalau kamu membawa sapu tangan, agar orang lain tidak tertular ketika kamu batuk ataupun bersin.
Oya, jangan remehkan mikroba yang ada di udara ya, yah walaupun mereka itu hanya satu koloni saja, ketika mereka mendapatkan tempat hidup yang bagus (dalam tubuh kita), maka kita akan “sakit”. Dalam kasus ini, “sakit” berarti sedang aktifnya pertahanan tubuh untuk melawan si mikroba ini..Iya kalau kita sehat, gizi kita bagus..mungkin “sakit” yang kita derita cuma sebentar, tapi kalau makanannya cuma mie Instan selalu…kan lain ceritanya…
Untuk sekedar informasi, ada beberapa mikroba, termasuk virus, yang dapat menyebar melalui udara:
  • Streptococcus pyogenes : penyebab penyakit faringitis, radang tenggorokan tanpa dahak, demam rematik, dan glomerulonefritis. Kuman ini dapat disebarkan melalui bersin.
  • Corynebacterium diptheriae : menyebabkan penyakit difteri, yaitu penyakit saluran pernafasan bagian atas.
  • Mycobacterium tubercolusis : menyebabkan penyakit tubercolusis (TBC). Dapat tersebar melalui udara, terutama terdapat dalam dahak.
  • Streptococcus pneumoniae : kuman ini dulunya bernama Diplococcus pneumoniae. Kuman ini menyebabkan penyakit pneumonia. 95% penderita pneumonia disebabkan oleh kuman ini. 5% penderita pneumonia yang lain disebabkan oleh Haemophilus influenza.
  • Neisseria meningitidis : menyebabkan penyakit meningitis (radang selaput otak dan sumsum tulang belakang).
  • Bordetella pertussis : menyebabkan penyakit pertusis atau batuk rejan.
  • Rhinovirus : menyebabkan penyakit sindroma (serangkaian gejala yang mencirikan suatu penyakit) selesma.
  • Influenza : menyebabkan penyakit influenza.
Nah bagaimana? Banyak juga bakteri udara ya?? tapi ingat, mereka tidak hidup di udara secara permanen, udara merupakan medium sementara mereka, kalau mereka “jatuh” di tempat yang cocok, mereka akan berkembang biak. Kalau tidak jatuh, ya mereka akan mati. (Kata Gus Dur, gitu aja kok repotNyah-Nyah). Satu lagi, kalau ingin mengetahui lebih jelas tentang deskripsi penyakit di atas, silahkan tanya mas gugel, saya belum sempat tanyaAngel.

Mengenal Silent Spring

Pertama sekali saya mendengar dua kata ini, makna yang muncul di benak saya adalah sebuah sejarah, seperti Holocaust ataupun sejarah mengerikan lainnya. Namun, setelah mencari-cari di dunia yang tak pernah nyata ini, saya menemukan makna dari “silent spring” ini. Judul sebuah buku, itulah makna dari dua kata ini.
Rachel Carson, adalah si penulis buku ini. Pada tahun 1962 buku ini dipublikasikan. Tujuan beliau mempublikasikan buku ini adalah untuk membangkitkan kesadaran publik akan bahaya “Pestisida” terhadap suatu ekosistem, terlebih lagi, pada saat itu penggunaan pestisida sedang digalakkan dan akan segera dilegalkan. Pada saat ini, buku ini menjadi referensi utama dalam hal sejarah pengendalian hama (Integrated Pest Management) pada bidang pertanian dan bidang kimia.
Judul buku yang berarti kesunyian musim semi ini, mengisahkan bagaimana suatu ekosistem di musim semi yang semula cerah ceria penuh dengan suara burung berkicau dan organisme hidup tiba-tiba terusik oleh kehadiran pestisida yang digunakan secara berlebihan, terutama di bidang pertanian, yang mengakibatkan terbunuhnya berbagai jenis organisme hidup, dan megancam kehidupan manusia. Buku ini disusun dalam bentuk tulisan ilmiah yang dipadu dengan bahasa sehari-hari, dan mengemukakan fakta-fakta bagaimana pestisida mengalami akumulasi di dalam rantai makanan hingga akhirnya terakumulasi pada manusia sebagai konsumen puncak pada rantai makanan (food chain).
Nah, sekarang Siapakah Rachel Carson itu sendiri? Perempuan yang bernama lengkap Rachel Louise Carson ini, dilahirkan pada tanggal 27 Mei 1907, di Springdale Pennsylvania, Amerika Serikat. Sejak kecil Rachel Carson telah ditanamkan rasa cinta lingkungan oleh ibunya, sehingga beliau akhirnya memilih biologi kelautan sebagai bidang pendidikannya di Pennsylvania College for Women (kini menjadi Chatam College). Beliau kemudian meraih gelar MA pada tahun 1932 dari John Hopkins University di bidang zoology.
Awal karir bekerjanya dihabiskan sebagai peneliti dan editor di Biro Perikanan Amerika Serikat. Berbagai tulisan dan artikel tentang konservasi sumber daya alam telah dihasilkannya sejak tahun 1936, beberapa di antaranya berisikan tentang pendidikan kecintaan kepada lingkungan dalam bahasa-bahasa puitis dan ilmiah populer.
Tidak banyak prestasi luar biasa yang dihasilkannya selama menjadi seorang peneliti biologi kelautan dan penulis, selain beliau pernah menjadi Pimpinan Editor U.S. Fish and Wildlife Service dan mendapat penghargaan atas studi kelautan yang dibukukan pada “The Sea Around Us” (1952) dan “The Edge of the Sea” (1955). Kepeduliannya terhadap lingkungan membuat beliau merasa terusik atas pertumbuhan penggunaan pestisida sintetis pasca perang dunia kedua. Pada akhirnya beliau mempublikasikan hasil penelitiannya tentang bahaya pestisida terhadap ekosistem melalui “Silent Spring” (1962).
Kehadiran buku ini menimbulkan kontroversi di Amerika Serikat. Berbagai media massa memberitakan tentang buku tersebut, sementara di sisi lain berbagai tekanan diterimanya terutama dari kalangan industri kimia agar beliau bersedia menarik kembali buku tersebut. Sampai akhirnya Kongres Amerika Serikat mengundang Rachel dalam acara dengar pendapat dan mendengarkan kesaksian langsung dari beliau mengenai isu bahaya pestisida tersebut bagi ekosistem, tepat sebelum rapat kongres pada tahun 1963. Dari hasil kesaksian inilah akhirnya dibentuk undang-undang nasional perlindungan lingkungan di Amerika Serikat (NEPA-National Environmental Protection Act) pada tahun 1969.
Rachel Carson akhirnya meninggal akibat penyakit kanker payudara yang dideritanya pada tahun 1964, atau setahun setelah beliau memberikan kesaksian di depan Kongres Amerika Serikat. Beliau memang tidak sempat melihat tindak lanjut kesaksiannya di depan Kongres Amerika Serikat, namun kita bisa melihat bagaimana beliau memperingatkan dunia akan bahaya pestisida melalui kisah sejarah berkembangnya Integrated Pest Management di berbagai textbook di berbagai belahan dunia. Bahkan pada tahun 2002 yang lalu, dalam 40th Anniversary of Rachel Carson’s Silent Spring, buku tersebut dicetak ulang dalam kemasan baru dengan ditambahkan oleh kata sambutan dari Presiden Amerika Serikat.
Berkat buku ini juga, banyak kelompok-kelompok peduli lingkungan terbentuk, yang selalu ada untuk menentang mereka yang ingin meraup harta tanpa peduli keadaan lingkungan. Nah, bagaimana dengan kamu?? Apakah lingkungan atau ekosistem yang seimbang tidak berarti apa-apa bagimu???

Upaya Pencegahan Dampak Negatif dari Produk Bioteknologi


Penelitian-penelitian terhadap produk bioteknologi harus dikaji dan dievaluasi oleh tim yang ahli, khususnya dari segi keamanan biologi, kesesuaian standar, serta kelayakan moral dan etika. Pelepasan atau terlepasnya organisme hasil rekayasa genetik akan menyebabkan dampak pencemaran biologis yang tidak mudah dilacak dan diramalkan akibatnya bagi kesehatan dan lingkungan. Oleh karena itu, sebelum produk bioteknologi dilepas di pasaran perlu dibuat peraturan keselamatan hayati. Isi dari peraturan keselamatan hayati tersebut harus memuat beberapa hal berikut :

  1. Uji coba yang perlu dilakukan.
  2. Jenis-jenis mikroorganisme yang telah dimodifikasi yang boleh dilepas di alam.
  3. Pengamanan jika mikroorganisme hasil rekayasa yang terlepas terbukti berbahaya.
Dengan adanya peraturan keamanan hayati tersebut diharapkan dampak negatif dari biteknologi dapat dihindari. Adapun pokok-pokok peraturan keamanan hayati Indonesia secara rinci adalah sebagai berikut :
  1. Analisis resiko dan persyaratan keamanan hayati yang berkaitan dengan produk bioteknologi, baik organisme yang telah mengalami modifikasi genetik (Genetically Modified Organism / GMO) maupun produk makanan atau obat hasil rekayasa genetik, misalnya susu, buah, vaksin, dan sebagainya. Analisis resiko harus mencakup lingkungan di luar daerah uji coba pertama kali dilakukan.
  2. Analisis resiko dan persyaratan keselamatan bagi pelepasan GMO secara sengaja ke alam dan pencegahan terlepasnya GMO tanpa sengaja dari keadaan terisolasi (laboratorium).
  3. Pengaturan keselamatan untuk pengembangan penelitian dan pemanfaatan GMO serta bioteknologi di dalam negeri dengan mempergunakan prinsip pencegahan.
  4. Persyaratan alih teknologi  yang berkaitan dengan proses dan prosedur berbahaya dalam bioteknologi.
  5. Keterbukaan dan akses informasi mengenai GMO bagi seluruh jajaran pemerintah dan masyarakat. Hal ini termasuk pemberian label produk bioteknologi dengan mencantumkan pula kemungkinan reaksi produk bagi orang peka.
  6. Penanganan dampak pelepasan GMO terhadap ekosistem.
Sebelum peraturan keamanan hayati diberlakukan, peranan pemerintah sangat penting untuk menjamin tidak tercemarnya keanekaragaman hayati oleh produk-produk bioteknologi yang dapat dipastikan dampaknya terhadap kesehatan dan lingkungan. Pemerintah diharapkan mendapat masukan dari para ahli bioteknologi yang memberikan rekomendasi kepada para pengambil keputusan dan penyusun kebijakan ilmu pengetahuan dan teknologi. Di samping itu, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dapat dijadikan partner dari pemerintah dalam mengawasi dan memantau pemanfaatan produk bioteknologi di lapangan.
Demikianlah beberapa upaya pencegahan dampak negatif dari produk bioteknologi yang dapat saya berikan. Yang terpenting adalah, kita tidak hanya memikirkan manfaat dari bioteknologi untuk diri kita sendiri, namun kita juga harus memikirkan dampaknya terhadap organisme itu sendiri, dan alam sekitar kita. So, be wise….