Showing posts with label Beasiswa. Show all posts
Showing posts with label Beasiswa. Show all posts

Informasi dan Persyaratan Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia (BUDI)

Informasi dan Persyaratan Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia (BUDI)
Logo Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia

Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia (BUDI) merupakan program bersama antara Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). BUDI dikhususkan untuk dosen tetap Indonesia dari Perguruan Tinggi Negeri dan Perguruan Tinggi Swasta di bawah lingkup Kemenristekdikti. Melalui program ini, diharapkan jumlah dosen tetap yang diampu oleh Kemristekdikti akan terus ditingkatkan kuantitas serta kualitasnya.
Dana beasiswa yang disalurkan oleh BUDI akan sesuai dengan standar LPDP. Seperti yang telah diketahui, mekanisme penyaluran dana yang diselenggarakan oleh LPDP sangat profesional. Dengan begitu, para dosen diharapakan dapat meningkatkan kemampuan akademik dan non-akademiknya secara optimal tanpa perlu risau dengan masalah dana kuliahnya.

Jenis beasiswa yang disediakan oleh Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia

Beasiswa ini terdiri dari tiga program yaitu
Beasiswa Magister Dalam Negeri
Beasiswa Doktor Dalam Negeri
Beasiswa Doktor Luar Negeri.

Persyaratan Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia

  • Dosen Tetap (PTN dan PTS) yang berada dalam lingkungan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Harus sduah memiliki Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN).
  • Memenuhi persyaratan Tugas Belajar seperti yang telah ditetapkan ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 48 Tahun 2009.
  • Beasiswa ini tidak diberikan kepada pelamar yang ingin mendapatkan gelar kedua pada strata yang sama. Misalnya sudah memiliki gelar S2 sains lalu inging mengambil gelar S2 pendidikan.
  • Beasiswa diberikan kepada mahasiswa perkuliahannya dimulai pada semester gasal (bulan September).
  • Batas usia penerima beasiswa adalah 45 tahun untuk S2 dan 50 tahun untuk S3 terhitung per tanggal 1 Desember tahun berjalan.

Pendaftaran Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia

Untuk mendaftar Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia, silahkan klik salah satu link berikut yang sesuai dengan pilihan Anda

Kampus Tujuan Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia

Mengenai tujuan kampus yang disediakan beasiswa ini, baik situs Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia dan situs Lembaga Pengelola Dana Pendidikan tidak mencantumkan mengenai kampus-kampus yang dapat dipilih oleh para pelamar beasiswa BUDI. Akan tetapi, jika mengacu pada standar kampus pilihan LPDP, maka Anda dapat mendownload file berikut:

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan kunjungi website Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia

4 Persiapan LGD LPDP yang Harus Kalian Lakukan

4 Persiapan LGD LPDP yang Harus Kalian Lakukan
Apa yang terjadi jika harus berdiskusi dengan orang-orang yang baru kita kenal, berasal dari latar belakang yang berbeda, dan dengan umur yang berbeda pula. Tentu sangat sulit bukan? Nah, hal itulah yang akan kalian alami pada saat mengikuti LGD LPDP. Tapi jangan takut. Dengan persiapan yang matang, kalian bisa melewati tes LGD dengan lancar.

Pada artikel sebelumnya, saya sudah membahas mengenai tahap Administrasi LPDP. Setelah kalian lulus tahap administratif, selanjutnya kalian akan mengikuti tahap substantif yang terdiri dari tes wawancara, LGD, dan essay on the spot. Tes LGD saat ini sudah berbeda dari tes yang telah saya lakukan dulu, dimana Bahasa yang digunakan pada saat tes adalah Bahasa Indonesia untuk semua peserta, baik tujuan dalam negeri maupun luar negeri. Nah, untuk saat ini, peserta tujuan dalam negeri akan menggunakan Bahasa Indonesia dan peserta tujuan luar negeri akan menggunakan Bahasa Inggris.

LGD merupakan singkatan dari Leaderless Group Discussion. LGD adalah diskusi kelompok tanpa pemimpin diskusi. Jadi, setiap anggota LGD memiliki kesempatan yang sama untuk memberikan gagasan masing-masing dalam diskusi tersebut. Tujuan dari LGD adalah mengamati perilaku seseorang.

Dalam sebuah LGD, biasanya ditentukan seorang moderator dan notulen. Moderator dan notulen ini bukan sebuah keharusan. Jadi jangan habiskan waktu kalian untuk menentukan moderator dan notulen. Moderator bertugas mengatur jalannya diskusi dan notulen bertugas mencatat hasil diskusi. Pada beberapa artikel, ada yang mengatakan bahwa menjadi moderator itu menjadi nilai plus bagi si peserta jika dia mampu memimpin jalannya diskusi. Ingat ya, JIKA DIA MAMPU MEMIMPIN.
Banyak sekali hal yang harus kalian persiapkan untuk mengikuti LGD LPDP. Diantaranya adalah 4 hal berikut ini.

1. Cara / etika berbicara yang baik dan benar

Pada saat LGD, kalian akan diberikan sebuah topik lalu dituntut untuk berbicara dan mendengar. Kedua hal tersebut harus seimbang. Terlalu banyak berbicara akan dianggap egois (mendominasi), dan terlalu banyak mendengar (dengan kata lain terlalu banyak diam) akan dianggap pasif. Ada beberapa hal yang harus kalian perhatikan pada saat mengikuti LGD LPDP, antara lain adalah:
  • Berbicara to the point. Sampaikan ide-ide kalian dengan singkat dan tepat, dan jangan berceramah, karena waktu untuk tes LGD itu sangat singkat 
  • Berikan kesempatan berbicara kepada peserta lainnya walaupun topik LGD berhubungan dengan bidang yang kalian kuasai 
  • Perhatikan cara menyanggah pendapat orang lain. Jangan sampai menjatuhkan, walaupun pendapat yang diberikan kurang tepat 
  • Apabila topik LGD berhubungan dengan bidang yang kalian kuasai, bukan berarti kalian boleh mondominasi jalannya LGD tersebut. Begitu pula sebaliknya. Kalian harus ingat pengertian dan tujuan LGD. Setiap peserta memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam proses LGD 
  • Perhatikan etika dalam berbicara seperti saat berbicara harus menatap lawan bicara (jangan menunduk), suara harus terdengar jelas (bukan berarti harus teriak), menggunakan tata bahasa yang baik dan benar serta mudah dimengerti, dan jangan menggunakan nada suara yang tinggi (kecuali sudah bawaan lahir)

2. Update informasi yang sedang berkembang dalam masyarakat

Untuk berdiskusi, pasti ada topik yang didiskusikan. Nah, topik dari LDG LPDP itu selalu berhubungan dengan peristiwa hangat yang sedang terjadi di masyarakat kita. LPDP akan terus memperbarui topik-topik LGD ini. Jadi, kalian harus aktif mencari informasi dan peka terhadap masalah yang sedang terjadi pada masyarakat kita. Sebagai contoh, ketika saya mengikuti LGD LPDP, topik yang saya dapatkan adalah hukuman mati kepada gembong narkoba.

3. Latihan bersama teman atau komunitas

Practice makes perfect. Bergabunglah dengan komunitas LPDP di daerah kalian masing-masing atau carilah teman-teman yang juga lulus tes administratif. Ajaklah mereka untuk latihan. Melalui latihan, kalian bisa saling tukar pikiran untuk memperbaiki kekurangan masing-masing dan bisa merasakan bagaimana atmosphere LGD itu sendiri. Saya yakin, saat ini sudah banyak sekali komunitas LPDP di sekitar kalian yang mau membantu tanpa pamrih, apalagi komunitas yang tersebar di media social. Berdiskusilah dengan mereka.

4. Berdoa

Berusaha tanpa berdoa itu sombong. Setelah semua hal di atas telah kalian persiapkan dengan matang, serahkan semua hasilnya kepada Allah SWT. Allah telah menyiapkan rencana terbaik untuk kita semua. Yakin lah kepada ketetapan Allah.

Sharing Pengalaman LGD LPDP

Di paragraf sebelumnya, saya mengatakan jika dalam sebuah LGD itu ada moderator dan menjadi moderator itu merupakan nilai plus bagi si peserta. Saya rasa itu benar.

Saat penentuan moderator, tidak ada angin tidak ada hujan, tertunjuklah saya sebagai moderator. Pada saat itu saya sangat gusar karena menjadi moderator itu seperti memiliki pedang bermata dua, salah sabet bisa kena diri sendiri, salah ngomong sedikit, bisa merusak jalannya diskusi. Apalagi, setelah saya menerima topik yang diberikan. Ternyata, pertanyaan dari topik itu berbeda dengan apa yang saya dapatkan dari hasil latihan bersama SALEUM (Solidaritas Awardee LPDP Aceh Darussalam). Jadi, pertanyaan itu HANYA ADA SATU. BAGAIMANA SIKAP ANDA TERHADAP PERMASALAHAN TERSEBUT. Kalau saya mulai diskusi dari satu pertanyaan itu, saya yakin diskusi kami hanya berjalan 15 menit saja. Oleh karena itu, saya menggabung pertanyaan tersebut dengan pertanyaan yang saya dapat dari latihan bersama SALEUM. Akhirnya jadilah 3 pertanyaan seperti berikut: Apa saja penyebab permasalahan tersebut? Apakah solusi yang tepat untuk masalah tersebut? Apa saja rintangan yang mungkin menghambat penerapan solusi tersebut? Selanjutnya, saya juga membuat sedikit peraturan dalam tata laksana berdiskusi yang Alhamdulillah sekali mau diterima oleh peserta yang lain. Akhirnya, diskusi berjalan dengan lancar. Kalau saya tidak salah, setiap peserta mendapat kesempatan berbicara sebanyak 4 sampai 5 kali, termasuk saya sebagai moderator dan notulen. Pada saat itu kelompok LGD kami bejumlah 6 orang, 3 diantaranya lulus seleksi substansif, termasuk saya sendiri.


Demikianlah yang dapat saya sampaikan. Saya mengucapkan selamat kepada kalian yang sudah lulus tes administratif, jangan lalai, persiapkan diri kalian sebaik mungkin untuk tes selanjutnya.

Sistem Administrasi Beasiswa AAS dan LPDP


Sistem Administrasi Beasiswa AAS dan LPDP

Sistem Administrasi Beasiswa AAS dan LPDP


Pada saat ini, beasiswa pendidikan sangat banyak, dua diantaranya adalah beasiswa Australia Scholarship Awards (AAS) dan beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Kedua beasiswa ini merupakan primadona dan impian bagi para scholarship hunters. Hal ini dibuktikan dengan semakin bertambahnya jumlah pendaftar setiap tahunnya.
Pada kesempatan kali ini, saya akan membahas Sistem Administrasi kedua beasiswa ini. Mulai dari tahap seleksi berkas sampai ke tahap interview. Nah, jika ada yang bertanya kenapa saya hanya membahas dua beasiswa ini saja? Jawabannya adalah karena hanya dua beasiswa inilah paling membekas di hati saya :v. Untuk AAS, saya sudah dua kali lulus administrasi berkas dan dua kali gagal di tahap interview. Untuk beasiswa LPDP, syukur Alhamdulillah, cukup satu kali tes sudah membuat saya menjadi seorang awardee beasiswa LPDP.
Oke, saya akan mencoba membahas kedua beasiswa ini tanpa meninggi-rendahkan salah satu beasiswa tersebut. Kedua beasiswa tersebut sama-sama bagus. Jikalau ada diantara kalian yang lulus kedua beasiswa tersebut dan bingung mau memilih yang mana, saran saya tanyalah pada rumput yang bergoncang -_-.

1.    Sumber Beasiswa

Australia Award Sholarship berasal dari Pemerintah Australia, sistem administrasinya di bawah Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) the Department of Education dan Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR). Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan berasal dari Pemerintah Indonesia, sistem administrasinya dikelola oleh LPDP itu sendiri.

2.    Kuota

a.      AAS. Pada tahun 2015, peserta shortlisted (peserta yang lulus seleksi berkas) berjumlah 912 orang, kuota untuk lulus seleksi selanjutnya, yaitu seleksi interview adalah 440 orang. Pada tahun 2016, peserta shortlisted berjumlah 412 dan kuota untuk peserta yang lulus seleksi interview adalah 200 orang. Pertambahan maupun pengurangan kuota ini berdasarkan jumlah penerima beasiswa Short Term Awards. Jadi, tidak dipengaruhi oleh hubungan diplomatic Indonesia-Australia (Sumber: Briefing Persiapan Menghadapi Tes Wawancara dan IELTS).
b.      LPDP. Pada tahun 2015, saya tidak tahu berapa jumlah penerima beasiswa LPDP sebenarnya, yang jelas, jumlah peserta yang lolos seleksi interview pada tahap Januari-April 2015 itu adalah lebih kurang 1000an orang (tahap saya lulus beasiswa ini). Pada tahun 2016 ini, LPDP menyediakan lebih kurang 5000 kuota untuk putra-putri terbaik bangsa ini (http://finance.detik.com/read/2016/01/31/121836/3131280/4/ingin-sekolah-ke-luar-negeri-kemenkeu-sediakan-5000-beasiswa).

3.    Tahap Seleksi Berkas

Untuk tahap seleksi berkas, saya akan membahas beberapa persyaratan yang menurut saya sangat perlu diperhatikan. Kalian dapat membaca persyaratan secara lengkap pada situs masing-masing beasiswa.
a.        AAS. Pendaftaran dibuka satu kali per tahun. Pada tahun 2016 ini, pendaftaran telah dibuka mulai bulan Januari dan akan ditutup pada bulan April. Hasil seleksi berkas akan diumumkan pada bulan Juli. Persyaratannya adalah sebagai berikut
-            Studi yang dipilih harus sesuai dengan “priority academic areas” yang disediakan AAS
-            IPK minimal 2.9 skala 4
-            Persyaratan Bahasa Inggris. Untuk jenjang S2, IELTS: 5.5 atau TOEFL: 525 (naik 25 dari tahun sebelumnya) atau IBT: 69. Untung jenjang S3, IELTS: 6.0 atau TOEFL: 550 atau IBT: 79. Hasil tes Bahasa Inggris tersebut harus berasal dari tahun 2015 atau 2016.
-            Mengisi formulir (online/ offline). Termasuk essay dalam Bahasa Inggris.
b.        LPDP. Pendaftaran dibuka empat kali per tahun. Jadwal pendaftaran untuk tahun 2016 dapat dilihat pada gambar berikut.
Jadwal Pendaftaran LPDP Tahun 2016

Persyaratan beasiswa LPDP adalah sebagai berikut:
-            WNI
-            IPK minimal 3.0 (skala 4) untuk jenjang S2 dan 3.25 (skala 4) untuk jenjang S3.
-     Persyaratan Bahasa Inggris. Untuk jenjang S2 tujuan dalam negeri, TOEFL ITP® 500/iBT® 61/IELTS™ 6,0/TOEIC® 600. Untuk jenjang S2 tujuan luar negeri, TOEFL ITP® 550/TOEFL iBT® 79/ IELTS™ 6,5/TOEIC® 750. Untuk jenjang S3 tujuan dalam negeri, TOEFL ITP® 500/iBT® 61/IELTS™ 6,0/TOEIC® 600. Untuk jenjang S3 tujuan luar negeri, TOEFL ITP® 550/TOEFL iBT® 79/ IELTS™ 6,5/TOEIC® 750. Penting! Hasil tes yang dapat digunakan adalah hasil tes yang masih berlaku.
-            Mengisi formulir online. Termasuk essay (Bahasa Indonesia untuk tujuan DN dan Bahasa Inggris untuk tujuan LN)
-   Surat rekomendasi. Form surat rekomendasi sudah disediakan, jadi mereka yang memberikan rekomendasi kepada kalian hanya perlu mengisi saja. Tidak ribet. Mengenai jumlah surat rekomendasi, ada teman saya yang mengirim satu saja, ada yang mengirim dua, dan saya mengirim tiga.

4.    Tahap Interview

Tahap yang paling membuat saya deg-degan. Baik beasiswa AAS dan LPDP, kedua-keduanya itu saya di interview oleh beberapa orang manusia. Ya, manusia. Jadi tidak mungkin kalian masuk ke dalam ruang itu dalam bentuk utuh dan keluar hanya tinggal tulang belulang saja. Yang ingin saya katakan adalah masuklah ke dalam ruangan interview tersebut secara sopan dan jadilah versi terbaik dari diri kalian pada saat itu. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada proses ini berhubungan dengan essay yang telah kalian buat, pekerjaan, pengalaman kuliah, dan organisasi (khusus LPDP, yang berhubungan dengan jodoh biasanya akan ditanya :v).
a.        AAS. Tahap interview AAS terdiri dari dua sesi yaitu sesi IELTS Test dan sesi Interview yang dilaksanakan oleh Joint Selection Team (JST). Urutan dari sesi ini dapat berbeda-beda pada setiap kandidat. IELTS dilaksanakan oleh pihak IALF Jakarta bekerja sama dengan pihak AAS. Kalian tidak perlu megeluarkan biaya sepeser pun untuk mengikuti tes IELTS ini. Sesi interview akan dipandu oleh dua orang, dengan kombinasi 1 orang pria dan 1 orang wanita; 1 orang dari Indonesia dan 1 orang dari Australia. Pengalaman interview saya, pada tahun 2015 di-interview oleh seorang pria Australia dan seorang wanita Indonesia. Selanjutnya pada tahun 2016, di-interview oleh seorang pria Indonesia dan seorang wanita Australia.
b.        LPDP. Tahap interview LPDP terdiri dari sesi LGD, essay on the spot, dan sesi interview. Urutan sesi ini akan berbeda-beda pada setiap peserta. LGD merupakan singkatan dari Leaderless Group Discussion, sebuah kegiatan diskusi untuk memecahkan suatu masalah tanpa ada “ketua”. Pada sesi interview, kalian akan di-interview oleh 3 orang reviewer yang terdiri dari seorang psikolog, akademisi, dan pihak LPDP.

 5.    Setelah itu?

Nah, jika kalian lulus tahap interview, kalian tidak serta merta langsung kuliah atau langsung angkat koper ke luar negeri. Masih ada beberapa proses lagi yang harus kalian lakukan dan berpengaruh pada penerimaan beasiswa kalian. Jadi, jangan anggap remeh tahap-tahap tersebut.
a.        AAS. Setelah kalian lulus tahap sebelumnya, kalian akan mengikuti kegiatan EAP (English for Academic Purposes). Rentang waktu kegiatan ini bergantung pada hasil tes IELTS kalian. Jadi, semakin rendah nilai IELTS maka semakin lama kalian mengikuti kegiatan EAP. Selanjutnya, jika semua tahap telah kalian lalui, maka kalian akan segera berangkat ke Australia. Mengenai urusan dengan kampus tujuan, visa, dll akan diselesaikan oleh pihak AAS. Kalian hanya perlu menyiapkan beberapa dokumen saja.
b.        LPDP. Setelah kalian lulus tahap interview, kalian akan mengikuti kegiatan “Persiapan Keberangkatan” atau disingkat dengan PK. Untuk urusan dengan kampus tujuan, kalian harus mandiri dalam menyelesaikan hal tersebut. LPDP hanya membantu kalian mengenai hal-hal yang berhubungan dengan dana dan administrasi kampus.

Nah, setelah membaca tulisan ini, apakah kalian ingin menentukan mau fokus ke beasiswa yang mana? Atau sudah menilai yang mana lebih mudah atau lebih sulit?  Harus diingat ya, tujuan saya membuat tulisan ini hanya untuk memberikan gambaran mengenai sistem administrasi kedua beasiswa tersebut. Dengan begitu, kalian bisa mempersiapkan apa-apa saja yang dibutuhkan pada setiap tahap. Saran saya dalam memilih beasiswa, pilihlah beasiswa yang sanggup menanggung semua biaya pendidikan dan kehidupan kalian di tempat tujuan. Hal ini sangat penting, agar kalian bisa fokus untuk belajar, selesai tepat waktu, sekaligus aktif mengembangkan organisasi yang kalian punya.


Disclaimer: Tulisan ini adalah murni pengalaman saya. Jika ada kesamaan atau perbedaan dari informasi yang telah kalian dapat, anggap saja hal tersebut adalah dinamika kehidupan -_-.

Update.
Berdasarkan Australia Awards Scholarships Policy Handbook yang diterbitkan pada bulan Januari tahun 2017, terdapat perubahan pada jenis dan skor tes bahasa Inggris yang diterima oleh Australia Award Scholarship. Adapun perubahannya adalah sebagai berikut:
  1. Jenis tes bahasa Inggris yang diterima oleh Australia Awards Scholarship adalah International English Language Testing System (IELTS)Test of English as a Foreign Language (TOEFL), dan Pearson Test of English Academic (PTE Academic).
  2. Skor tes bahasa Inggris yang diterima adalah Academic IELTS dengan skor rata-rata 6.5 dan tidak ada bagian yang skornya di bawah 6.0; paper-based TOEFL dengan skor rata-rata 580; internet-based TOEFL dengan skor 92 dan tidak ada subtest yang skornya di bawah 21; PTE Academic dengan skor rata-rata 58 dan skor communicative skill tidak boleh di bawah 50.
Update 2.
Berdasarkan informasi yang dari salah seorang pembaca dari tulisan ini (Silvia) dan dari grup WA Beasiswa yang saya ikuti, maka saya ingin mengklarisifikasi update sebelumnya. Informasi pada update sebelumnya ditujukan untuk pendaftar beasiswa AAS yang sudah lulus tahap wawancara, bukan diperuntukkan untuk pendaftar awal beasiswa AAS (tahap administrasi). Sekian, terima kasih atas koreksi dari Silvia. Informasi lebih lanjut, klik disini