Showing posts with label My Opinions. Show all posts
Showing posts with label My Opinions. Show all posts

5 Harapan dan 6 Impian untuk UNSYIAH

Kamu dari UNSYIAH? Apakah kampusmu ada hubungannya dengan syi'ah? 
Tiba-tiba saya menjadi SPB (Sales Promotion Boy) UNSYIAH.

Lambang Universitas Syiah Kuala
Lambang Universitas Syiah Kuala

UNSYIAH baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke 56. Jika diibaratkan seorang manusia, orang yang berumur 56 tahun itu sudah pasti banyak pengalamannya. Banyak pula halangan dan rintangan yang telah dilaluinya. Semua itu, pada akhirnya, mampu membawa UNSYIAH untuk meraih Akreditasi A. Namun tetap saja, kemana pun saya pergi, saya harus menjelaskan kepada orang-orang bahwa UNSYIAH tidak berafiliasi sedikitpun dengan paham “Syi'ah”.

Sebagai salah satu alumni UNSYIAH, saya sangat bangga dengan perkembangan UNSYIAH saat ini, terutama dari segi akademik dan sosial masyarakat. Sangat sering saya dengar bagaimana sepak terjang junior saya di tingkat nasional dan internasional. Tidak jarang pula saya mengucapkan Alhamdulillah ketika saya membaca nama-nama junior saya di beberapa artikel internasional. Begitu juga dengan pengabdian mereka kepada masyarakat, melalui kegiatan KKN, saya terpukau dengan ide-ide cemerlang mereka dalam membantu masyarakat. Mereka juga masih kritis dalam menanggapi beberapa kebijakan yang diambil pemerintah Aceh. Saya sangat senang karena mereka tidak lupa dengan tanggung jawabnya dan berani turun langsung ke dalam masyarakat. Seperti yang dikatakan oleh Tan Malaka,

"Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali"

Selanjutnya, sebagai seorang alumni UNSYIAH, tentu saja, saya memiliki harapan dan impian untuk UNSYIAH. Harapan ini tidak muluk-muluk, impiannya pun tidak meninggi-ninggi. Dari sekian banyak keinginan itu, saya rangkumkan menjadi 5 harapan dan 6 impian saja. Dengan satu keinginan pasti, semoga Allah meridhai dan UNSYIAH dapat menggapainya. 

Sebelum menjelaskan panjang lebar, ada baiknya saya terangkan sedikit mengenai makna harapan dan impian versi saya. Harapan adalah sebuah keinginan jangka pendek. Sedangkan impian adalah sebuah keinginan jangka panjang. Sangat sederhana bukan? Bagaimana definisi harapan dan impian menurut kalian?

5 Harapan Saya untuk UNSYIAH

Sebuah penelitian terbaru di Inggris menunjukkan bahwa dua per tiga (67 persen) dari mahasiswa menganggap fasilitas kampus merupakan salah satu faktor bagi mereka dalam memilih universitas. Oleh sebab itu, saya sangat berharap UNSYIAH lebih berbenah lagi dalam menyiapkan fasilitas karena fasilitas yang baik akan menjadi salah satu daya tarik bagi mahasiswa baru dan dapat mendukung kegiatan akademik, baik bagi para mahasiswa, dosen, maupun stafnya. 

1. Listrik yang tidak pernah padam

Sewaktu pertama kali menginjakkan kaki di bumi Siliwangi, dengan bantuan teman PK 41 LPDP, saya bersama istri di bawa salah satu tempat perbelanjaan terlengkap di Bandung, namanya Borma. Sesuai dengan jingle-nya, “semua yang Anda cari, semuanya, ada disini”. Ya, semuanya ada di Borma. Semua peralatan ada, mulai dari peralatan dapur, sumur, dan kasur, semuanya ada. Namun, ketika saya mengambil lampu emergency, teman saya bertanya, “kamu beli lampu itu untuk apa? Saya jawab, “Ya kalau ada mati lampu, tidak perlu repot-repot lagi cari lilin”. Terus dia dengan bangga menjawab, “Oh, disini mah, tidak pernah mati lampu”. “TIDAK PERNAH MATI LAMPU”. Kata-kata itu terngiang-ngiang dalam pikiran saya sampai semester 3. Ya, benar sekali, selama saya tinggal disini, hanya 1 kali saja saya mengalami pemadaman listrik, itupun tidak lama. Selama disini, hujan hampir setiap hari, terus kalau sudah memasuki bulan Agustus, itu hujan lebat plus petir yang suara gemuruhnya bisa membuat jantung copot. Akan tetapi, lampu masih tetap nyala. Nah, kalau disana, jika sudah hujan plus petir, kita sebagai warga negara yang sadar akan ketidakmampuan PLN disana, tentu harus segera menyiapkan lampu emergency, atau paling tidak lilin.

Keadaan ini akan menjadi lebih parah jika kalian adalah seorang akademisi, dan kegiatan kalian berhubungan dengan laboratorium. Kalian bisa membayangkan, ketika kalian harus menumbuhkan bakteri dengan suhu tertentu, dan untuk memperoleh suhu tertentu itu kalian harus menggunakan incubator, dimana inkubator itu perlu listrik, dan listriknya padam. Apa yang harus dilakukan? Ya, paling istighfar, lalu mengulang kembali tahapan praktikumnya. Oleh sebab itu, UNSYIAH, di umurnya yang sudah menginjak 56 tahun, harus paham dengan masalah ini. Paling tidak, ada genset dan dana untuk genset di setiap fakultasnya. Hal ini penting sekali untuk kenyaman dan keberlangsungan kegiatan akademik di dalamnya. 

2. Memiliki Transportasi Umum Milik Kampus

Beberapa hari yang lalu, saya dikunjungi oleh salah satu junior saya yang sama-sama penerima beasiswa LPDP, cuma bedanya, dia akan melanjutkan studi ke luar negeri. Setelah panjang lebar bercerita, sampailah pada pertanyaan, “bang, kalau di UI ada Bis Kuning (BiKun), kalau di IPB ada bus kampus, green bike, dan mobil listrik (MoLi), terus kalau di UPI, ada apa bang? Terus saya jawab, di UPI ada odong-odong hijau, cuma abang sama kakak lebih senang jalan kaki, toh disini tidak diijinkan bagi mahasiswa dan siswa untuk mengendari kendaraan pribadi di dalam kampus”. Terus dia Tanya lagi, “kalau di UNSYIAH ada apa bang?” Saya jawab, di UNSYIAH paling lengkap dek, semua ada. Ada labi-labi, ada Trans Kutaraja, ada kendaran pribadi, Dump truk pun ada, bentar lagi mungkin helikopter masuk ke lapangan tugu dek”.

Dari dulu, semenjak masih menjadi mahasiswa di FKIP Biologi. Saya selalu berpikir, kenapa banyak sekali lalu lalang kendaraan di dalam kampus. Jalan kampus penuh sesak. UNSYIAH perlu menyediakan aturan seperti di beberapa kampus lainnya, mahasiswa dilarang menggunakan kendaraan pribadi di kampusnya. Saat pertama kali mereka masuk kampus, mereka diharuskan memarkirkan kendaraannya, lalu berjalan kaki atau menggunakan tarnsportasi dalam kampus untuk menuju kampusnya. Hal ini bertujuan untuk menciptakan Green Lifestyle, yang mana selain bermanfaat untuk mahasiswa, juga bermanfaat untuk masyarakat sekitar.

3. Integrasi Teknologi Informasi dalam Kegiatan pembelajaran dan Administrasi

Tidak dapat dipungkiri, perkembangan teknologi informasi saat ini sangat pesat, dan merambah ke segala bidang kehidupan kita. Dunia pendidikan pun tak luput dari dampak perkembangan tersebut. Oleh sebab itu, teknologi informasi bukan merupakan hal yang baru bagi para akademisi di UNSYIAH. Mengapa teknologi bisa berkembang secepat itu? Salah satu alasannya adalah teknologi informasi menawarkan kemudahan bagi penggunanya. 

Di UNSYIAH, saat ini sudah banyak penerapan teknologi informasi dalam hal adminitrasi, sedangkan dalam kegiatan pembelajaran, hanya satu dua orang dosen saja yang benar-benar menerapkannya. Padahal, potensi penggunaan teknologi informasi dalam kegiatan pembelajaran sangat besar, hanya saja masih banyak yang tidak mau memanfaatkannya. Saya sering mendengar, “aneuk manyak lawet nyoe, gadoh lale ngen hape (anak-anak sekarang, banyak yang sudah lalai karena hp)”. Padahal, dosen saya pernah mengatakan, “kenapa anak-anak menggunakan hp nya untuk bermain atau entertainment saja, ya karena pendidiknya jarang mau menggunakan hp tersebut ke dalam kegiatan pembelajarannya”. Untuk itu, kita harus cerdas dalam menanggapi perkembangan teknologi informasi ini. Daripada melawan arus perkembangannya, lebih baik kita memanfaatkannya, bukan?


4. Fasilitas Internet yang Lancar dari Pagi sampai Sore

Sebelum saya menuliskan postingan ini, saya sudah bertanya kepada teman yang masih ada di UNSYIAH, “Bang, bagaimana internet di UNSYIAH saat ini? Lalu dia menjawab, “Seperti biasa, kadang-kadang sangat lancar, kadang-kadang ya salam”. Ternyata, keadaan internetnya masih sama seperti saat saya kuliah dulu. Saya sangat berharap kepada UNSYIAH agar segera memperbaiki fasilitas internet ini. Karena, untuk mendownload jurnal, itu perlu koneksi internet dengan IP UNSYIAH. Bukankah UNSYIAH sudah banyak berlangganan jurnal internasional? Jurnal yang telah UNSYIAH langgankan itu hanya bisa diakses dengan menggunakan IP UNSYIAH. Jika internetnya “ngadat”, bagaimana caranya untuk mendownload? Memang benar, Perpustakaan UNSYIAH saat ini menyediakan fasilitas download ini, tapi apakah untuk mendownload jurnal saja harus ke perpustakaan terlebih dahulu?

5. Civitas Akademika yang Peka untuk Merawat Kampus

Mengenai permasalahan ini, sebenarnya saya tidak berharap pada UNSYIAH-nya saja, namun kepada seluruh civitas akademikanya. Ada teman sekelas saya yang juga berasal UNSYIAH menceritakan kepada saya. “Bang, abang kenal dengan Ibu Fulan ini?” Saya jawab, “Ya, saya kenal, beliau dosen pembimbing saya, memangnya kenapa?” Si teman dengan semangatnya bercerita, “dulu kami pernah ke toilet, terus ketemu ibu itu, pas kami mau masuk, dia bilang, kalian jangan masuk dulu, lalu dia keluar toilet, memanggil seorang mahasiswi yang baru saja keluar toilet dengan suara yang besar, hei kamu, kamu yang baru saja keluar dari ini kan? Terus si mahasiswi meng-iyakan, terus si ibu menyuruh si mahasiswi untuk melihat keadaan toilet yang baru saja digunakannya, ini pasir dari sepatu kamu kan? Si mahasiswi kembali meng-iyakan, si ibu lalu mengatakan kamu itu sudah mahasiswa, masak cara kerja kamu begini. Kamu harus bersihin pasir begini sebelum meninggalkan toilet”. Itu merupakan secuplik keadaan di UNSYIAH (dulu, semoga saat ini tidak ada lagi).
Di lain kesempatan, saya juga sering melihat mahasiswa yang sedang naik tangga sambil menggesek tangan yang ada cincinnya sampai berbunyi pada pegangan tangga, lalu saya hampiri dia, sambil berjalan saya mengatakan, “oh pantas cat-cat di pegangan ini cepat sekali terkelupas, rupanya kerjaan kamu ya”. Ada juga yang suka menoret-coret meja dan busa di kursi, ada juga busa di kursi yang jebol (sepertinya yang duduk di kursi adalah saudara Hulk). Belum lagi dengan kebiasaan para mahasiswa dan mahasiswi yang suka membuang tissue di saluran toilet. Masalah ini sering saya dengar dari staf yang bekerja di UNSYIAH Hal tersebut sering membuat saluran pembuangan tersumbat. Mereka sebenarnya sudah lelah untuk mengingatkan. Oleh sebab itu, saya berharap kepada semua civitas akademika UNSYIAH untuk saling menjaga dan merawat UNSYIAH, kalau bukan kalian yang merawatnya, siapa lagi? Para petugas kebersihan? Jumlah mereka itu lebih sedikit daripada kalian, hanya mengharapkan mereka saja dalam merawat dan membersihkan UNSYIAH sama saja seperti melihat ombak yang membasahi bibir pantai, basahnya hanya sebentar saja.

6 Impian Saya untuk Unsyiah

1. UNSYIAH Masuk dalam Jajaran 10 Besar Universitas Terbaik di Indonesia 

Berdasarkan informasi dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia mengenai peringkat perguruan tinggi non politeknik Tahun 2017, UNSYIAH berada di urutan 27, jauh di bawah USU dan UNIMED. Oleh sebab itu, jangan heran jika banyak para mahasiswa baru dari Aceh lebih memilih kedua kampus tersebut dibandingkan UNSYIAH.


2. Jumlah Publikasi yang Semakin Meningkat Setiap Tahunnya 

Menurut Scopus, jumlah publikasi Indonesia berada di peringkat 3 di antara negara-negara ASEAn, berada di bawah Malaysia dan Singapura. UNSYIAH sendiri, total publikasi hingga 31 Mei 2016 adalah 642 dokumen, berada pada peringkat 14, tepat di bawah Universitas Andalas. UNSYIAH. Jumlah publikasi UNSYIAH terus naik sejak tahun 2008 dan rata-rata pertumbuhannya dalam 5 tahun terakhir adalah 27,06%. Saya sangat ingin pertumbuhan ini terus meningkat dan saya yakin UNSYIAH mampu melakukannya.

3. Menyiapkan Mahasiswa yang Menjunjung Tinggi Agama, Adat dan Budaya, serta Pancasila

Beberapa hari yang lalu, melalui lini masa media sosial, saya kembali melihat kehebohan tentang UNSYIAH. Saya pikir apakah ada mahasiswa UNSYIAH yang memenangkan kompetisi internasional, atau ada mahasiswa UNSYIAH yang menjadi pembicara di forum internasional, ternyata kasus “Korean Dance”. 

Indonesia itu negara kaya akan budaya. Indonsia memiliki lebih dari 700 suku, lebih dari 600 bahasa daerah, lebih dari 3000 tarian asli Indonesia. Namun kenapa masih bangga dengan budaya luar? Kenapa sangat bersemangat dengan tarian luar? Bahkan di Aceh sendiri ada sekitar 16-an tarian. Kenapa harus memilih tarian asing? Yang jelas-jelas tidak sesuai dengan agama, adat dan budaya Indonesia?
Dibalik kejadian tersebut, ada lagi yang membuat saya tertawa terbahak-bahak. Malah ada orang Aceh menganggap hal tersebut “wajar’, karena pakaian yang digunakan oleh “dancer”nya “sopan”. Saya ingin bertanya, standar “sopan” daerah mana yang digunakan oleh mereka? Standar “sopan” daerah Timur atau daerah Barat? Sebagai seorang mahasiswa, sangat penting untuk peduli dengan kekayaan adat dan budaya daerah kita sendiri, karena jika bukan mahasiswa yang melestarikan adat dan budayanya, terus siapa? Mau berharap orang dari negara lain yang melestarikannya? Yang ada malah diklaim sama mereka.

4. Meningkatkan Rasa untuk Berkolaborasi, Tidak hanya Kompetisi

Di dalam pendidikan, ada yang namanya asesmen. Selanjutnya, asesmen itu terbagi menjadi asesmen formatif dan asesmen sumatif. Asesmen dilaksanakan sepanjang kegiatan pembelajaran dan bertujuan untuk meningkatkan kualitas kegiatan pembelajaran, baik untuk pendidik maupun peserta didik. Sedangkan, asesmen sumatif dilaksanakan pada waktu tertentu, biasanya akhir semester dan bertujuan untuk memberikan nilai (judgment) terhadap peserta didik. Asesmen sumatif juga dikenal dengan evaluasi.

Sepanjang pengetahuan saya, lebih banyak asesmen sumatif daripada asesmen formatif yang dilakukan di UNSYIAH, akan tetapi kenapa mahasiswa UNSYIAH sangat getol dengan evaluasi? Sehingga dalam pikiran mereka yang tahunya hanya kompetisi saja? Yang penting saya dapat nilai tinggi, dapat IPK Cumlaude, bagaimanapun caranya. Saya tidak menafikan bahwa Cumlaude itu  penting, toh Menteri Ketenagakerjaan saja memberikan prioritas khusus untuk para lulusan Cumlaude. Namun, dibalik hal itu, saya merasa ada yang lebih penting, yaitu membangun “link”. Apa itu link? Saya yakin kalian semua pasti tahu “link” itu apa. Karena saya sadar, memiliki predikat Cumlaude saja tidak cukup untuk membangun Aceh ke depannya. 

5. Menumbuhkan rasa entrepreneurship kepada mahasiswa

Tahukah kalian berapa persentase ideal jumlah pengusaha di sebuah negara? Jawabannya adalah 2% (menurut David McClelland). Jadi, jika sebuah negara memiliki 2% pengusaha, maka negara tersebut dapat disebut sebuah negara makmur. Tahukan berapa persentase jumlah pengusaha di Indonesia? Jawabannya adalah hanya 1.8% saja. Sedangkan negara tentangga kita, Malaysia memiliki 5% pengusaha dan Singapura 7%. Jadi jangan heran mereka lebih maju dibandingkan dengan kita.

Sebenarnya, kita bisa memulai kegiatan enterprenership dari bangku kuliah. UNSYIAH pun sudah memahami masalah ini dengan mengeluarkan program bantuan. Namun, berdasarkan informasi dari teman saya yang juga peserta dari program tersebut, dia mengatakan jumlahnya pun tidak mencapai 2% dari jumlah total mahasiswa UNSYIAH. Kita tidak harus menjadi mahasiswa ekonomi untuk menjadi seorang pengusaha.


6. Memiliki Pusat Kegiatan Akademik di Aceh 

Sebagai Universitas dengan Akreditasi A di Aceh, saya ingin UNSYIAH menjadi pusat kegiatan akademik di Aceh. Sebelum ada orang yang mengatakan bahwa “di kaki tempat saya berdiri ini ada minyak”, terlebih dahulu dia harus meminta hasil penelitian para ahli di Teknik Pertambangan UNSYIAH. Sebelum ada orang yang mengatakan “ekonomi paling jelek di Aceh”, terlebih dahulu dia harus minta data dari ahli ekonomi UNSYIAH. Begitulah sewajarnya. Namun saat ini, hal itu sulit terjadi, ditambah lagi dengan keadaan politik kepentingan disana. Alhasil, UNSYIAH hanya jadi korban cemoohan masyarakat karena ulah mereka.

Demikianlah. Semoga semua apa yang harapkan dan impikan ini diridhai oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan semuanya terlaksana di UNSYIAH.

An Internal Motivation from the External Motivator

My External Motivator
Tidak perlu sebuah ruangan dengan pemandangan yang indah…
Tidak perlu meninggalkan pekerjaan lain…
Tidak perlu mengusir orang-orang terdekat kita…
Tidak perlu jam yang berdetak…
Tidak perlu duduk di bawah sinar matahari…
Tidak perlu kursi yang nyaman…
Tidak perlu barang-barang baru…
Tidak perlu terlalu banyak bertanya pada orang lain, mendengarkan musik klasik……
Semua itu tidak perlu…
Yang diperlukan hanyalah…
Motivasi dari diri sendiri
Sudah banyak tulisan-tulisan di kepala saya yang hilang…
Sudah banyak ide-ide, kritik-kritik, dan bahan ajar yang sudah musnah dari alam pikiran saya…
Dan semua itu disebabkan oleh sebuah kalimat, yang juga datang dari dalam pikiran saya, kalimat itu adalah…
Nanti saja dikerjakannya…
Ya, itu dia. Sudah lama penyakit “menunda pekerjaan” ini mengerogoti pikiran saya. Mungkin pada saat ini, penyakit ini sudah mencapai stadium 4. Sangat parah.Wajah menangis
Padahal, sudah banyak saya baca dan dengar, bagi seorang penulis..haram hukumnya menunda apa yang ingin ditulisnya. Banyak anjuran, apabila terlintas sebuah ide, kritik, atau apapun yang menarik untuk ditulis, sebaiknya langsung mencatatnya di sebuah kertas kecil. Setelah menemukan momen yang tepat, tanpa menunda waktu lagi, langsung melanjutkan tulisan yang dicatat tadi…
Inspirasi itu ada dalam diri kita…
Kemauan dan kesempatan untuk menulis itu juga ada pada diri kita…
Ayo..Keep Writing…
Image Source: Incidental Comics – My External Motivator…please click that link, “like” it, and share it…

Ayat–Al-Quran Digital yang Powerfull

Bagi sebagian besar orang, Al-Quran adalah sesuatu yang penting, yang harus dibawa kemana pun ia pergi. Namun, saya akui, ini sulit saya terapkan. Berhubung saya sering bepergian sendiri, maka Al-Quran yang ada di dalam tas tentu saja terikut, bahkan ke toilet sekalipun. Nah, maka dari itulah saya mencari ide lain, mencari Al-Quran dalam bentuk softcopy, bukan hardcopy. Solusinya, ya dengan Al-Quran Digital. Mengenai hukum membawa masuk “laptop yang berisi Al-Quran Digital” ini, saya pernah berdiskusi dengan beberapa orang yang saya anggap mampu menjawab persoalan ini, salah satunya dosen saya, Bapak M. Diah Husin.

Saya : Pak, kalau Al-Quran dibawa masuk ke toilet, hukumnya bagaimana pak??

Pak Diah : Lebih bagus janganlah, kamu sudah tau tanyak lagi (kalau Anda sering berbicara dengan beliau pasti tau bagaimana cara bicara dosen yang satu ini)

Saya : Terus pak, kalau HP saya yang berisi ayat-ayat Al-Quran saya masukkan ke toilet, itu hukumnya bagaimana pak??

Pak Diah : Kalau itu, selama ayat-ayat itu tidak disuarakan, ataupun tidak dibaca di dalam toilet, ya tidak apa-apa, tapi nanti saya akan kabari lagi…

2 Hari kemudian

Pak Diah : Hendra, kamu kemarin tanya masalah HP yang berisi ayat-ayat Al-Quran yang dibawa masuk ke toilet kan??? (Pak Diah tiba-tiba bertanya di tengah kegiatan perkuliahan, dan memang sudah menjadi kebiasaan Pak Diah selalu mengaitkan antara materi kuliah dengan hal yang lain, terutama yang berhubungan dengan Islam)

Saya : Benar pak…

Pak Diah : Sebenarnya HP itu sama dengan Kepala Kita. Di dalam Kepala Kita, ada ayat-ayat Al-Quran, tetapi kalau orang minta buktinya, ya kita suarakan, kita ngaji. Begitu juga dengan HP. Di dalam HP ada ayat-ayat Al-Quran, tapi tidak jelas dimananya. Kalau di memori, memori bagian mana, kan di memori HP tidak cuma ada ayat Al-Quran saja, ada nomor HP orang, ada SMS orang. . .Jadi selama HP tidak dibuka dan disuarakan ayat-ayat Al-Quran (saya pikir maksud dari Pak Diah adalah ayat tersebut tidak tampak) itu di dalam toilet, maka dibolehkan…itu menurut yang bapak baca..

 

Nah, jawaban dari Pak Diah tadi hampir sama dengan pendapat sebagian besar ulama, yaitu BOLEH, selama tidak baca Al-Quran…tidak membunyikan lantunan ayat Al-Quran, maka boleh…

 

Ok, sekarang kita lanjut ke “Ayat – Al-Quran Digital”.

capture-20130131-194809

Software ini adalah Freeware/Aplikasi Gratis, yang dibuat oleh King Saud University, atas bantuan Raja Fahd. Banyak kelebihan dari Ayat – Al-Quran Digital ini, diantaranya:

  • Freeware.
  • Mendukung Windows (XP, 7, 8), Linux, serta Mac
  • Tersedia terjemahan dalam bahasa Indonesia.
  • Tersedia Pewarnaan Hukum Tajwid (Harus di download pada setiap halaman yang diinginkan)
  • Tersedia Suara Qori (Harus di download pada setiap halaman yang diinginkan, tapi jangan takut, setiap 1 file ayat Qori, ukuran filenya jarang yang sampai 1 Mb)
  • Tidak membuat kinerja PC kamu lambat.

Ok, untuk mendownloadnya, kamu bisa mengunjungi situs ini

 

Ayat – Al-Quran Digital

 

Saran, setelah kamu masuk ke halaman tersebut, maka pilih Bundled Version ---> Pilih Qori ---> Pilih Download Bundled Version. Ukuran file biasanya lebih dari 600 Mb, tapi jangan takut, download saja pakai IDM, karena linknya bisa di Pause dan Resume.

 

Note:

Khusus mahasiswa FKIP Unsyiah, link download akan menyusul.

Bijaksana dalam Banyak Hal

133705340981129895
Indonesia sudah 67 tahun merdeka. Jika diibaratkan dengan umur manusia, maka 67 tahun merupakan manusia yang sudah menjadi Bapak/Ibu, atau bahkan Kakek atau Nenek. Namun yang ingin saya bahas bukan dari segi panggilan atau sebutannya, akan tetapi dari sudut cara berpikir dan tingkat kematangan pemikirannya.
Nah, pasti kalian bertanya, apakah maksud saya membuat postingan ini ingin mengatakan bahwa pola pemikiran Indonesia (dalam hal ini rakyatnya) belum matang??? Jawabannya adalah Ya, lebih kurangnya seperti itu, atau kalau dibuat bahasa lain, kita masih belum bijak, dalam banyak hal.
Baiklah, untuk mendukung pendapat saya ini, akan saya berikan 3 contoh kecil, yang mungkin sudah kita anggap menjadi kebiasaan (atau bahkan budaya!?).

1. Bangga Menjadi Koruptor daripada Petani

Sekarang kalau kita tanya pada mahasiswa, tidak usah jauh-jauh, mahasiswa FKIP Unsyiah saja, jika mereka disuruh bertani (pergi ke sawah), berapa orang yang mau??? Bisa dihitung dengan jari bukan??? Ya, memang seperti itu kejadiannya. Gengsi yang berlebihan, takut kotor kena lumpur, takut kulit hitam kena sinar matahari, dan berbagai alasan bodoh lainnya akan keluar jika kita menanyakan hal ini. Atau bahkan ada yang menganggap bertani itu pekerjaan rendahan, uang dari hasil bertani sedikit, dan tidak berkembang bisnisnya (?).
Apakah Anda pernah membaca sejarah tentang pertanian di Indonesia??? Kalau belum, maka akan saya informasikan sedikit (Anda bisa mencarinya di Internet). Pada tahun 1985, 1986, 1993, Indonesia pernah Swasembada beras. Swasembada dalam bahasa Inggris berarti self suffiency, atau memenuhi seluruh kebutuhan dari produksi sendiri. Pada saat itu, Indonesia mampu mengekspor beras ke luar negeri!. Nah sekarang??? Saya tidak tahu harus bilang apa lagi. Yang ingin saya tekankan adalah Stop Menghina Petani, Stop Malu jadi Petani, Petani itu lebih Mulia Dari Koruptor!!

2. Kalangan Atas Kalangan Bawah, Memang Ada???

Saya bingung dengan pembagian kalangan ini. Memang siapa sich pencetusnya??? Atas dasar apa dia mencetuskannya?? Atau hanya opini untuk memperkeruh dan mengkastakan masyarakat saja??? Kalau memang si pencetus ingin mengelompok-kelompokkan masyarakat Indonesia, maka Selamat, dia telah berhasil (!).
Saya berani mengatakan kalau kalangan atas kalangan bawah itu tidak ada. Atau paling tidak, semu. Ada dua alasan utama saya mengenai hal ini:
  1. Orang yang mengaku kalangan bawah, dengan pendapatan per bulan di bawah sekian-sekian, selalu kredit ini kredit itu, bahkan untuk barang-barang yang notabene kebutuhan tersier atau tidak dibutuhkan sama sekali. Alasan mereka??? Biar nampak elit, keren, mewah, mirip kalangan atas (loch!!). Padahal daripada dia kredit ini kredit itu bukankah lebih baik dia tabung uangnya untuk hal-hal yang lebih penting atau mendesak. Tapi ya sudahlah, iitu hak mereka.
  2. Orang yang mengaku kalangan atas, dengan pendapatan per bulan di atas sekian-sekian, mereka ada juga kredit ini kredit itu, ya dengan jumlah kreditan yang lebih besar tentunya. Nah, yang anehnya adalah, kalau mereka mengaku kalangan atas, kenapa masih pakai BBM bersubsidi, listrik bersubsidi, gas bersubsidi, kalau ada beasiswa untuk kalangan bawah, dia antri paling depan, dan ada pula yang punya akses untuk berobat yang dikhususkan untuk kalangan bawah (ya ampun).
Nah, apakah Anda masih percaya kalangan bawah kalangan atas itu ada??? Semua jawaban adalah hak Anda, tapi percayalah, ini merupakan salah satu cara mereka menghancurkan kita, dari dalam.

3. Kita Yang Mengerti Teknologi atau Teknologi Yang Mengerti Kita

Kalau berbicara masalah teknologi, maka banyak hal yang lucu, atau bahkan aneh bermunculan. Banyak dari orang kita yang ingin Teknologi Yang Mengeri Kita, bukan Kita Yang Mengerti Teknologi. Banyak contoh dari kalimat ini, Anda pasti bisa memberikannya. Nah, berhubung ini adalah postingan saya, maka sudah sewajibnya saya memberikan contohnya.
Ada seorang teman. Dia bangga dengan HandPhone terbarunya. Model terbaru, Processor terbaru, RAM besar, harga mahal. Dari situ, saya tanya apa fitur andalan dari HandPhone hebat itu?? Jawabnya, “Chatting”. “WATEPAK. HandPhone saya saja model lama, processor lambat, RAM kecil, harga murah juga bisa”, jawab saya. Terus dia membela, “Dengan pakai HandPhone ini internet gratis, terus ada ‘Username Unik’!”. “Gratis dari Hongkong. Bukankah kamu membayar paket setiap bulan??. Dan itu untuk 1 fitur Chatting itu saja, kalau mau fitur Chatting dengan aplikasi lain perlu tambahan bukan??? Nah, Handphone saya dengan harga paket yang sama, mau pakai Aplikasi apapun bisa…Lebih Gratis Kan???”. Dia diam sebentar, terus membela diri, “Nah, sekarang apa Handphone kamu ada Username Unik???!”.  Saya menjawab, “Unik dari Makau (tadi Hongkong sudah), Username kamu itu kan sudah ditentukan dari pabrik, tidak bisa di ubah-ubah, Nah kalau saya mau ubah 3x sehari pun tidak ada yang marah, kalau saat ini ada username yang sama dengan saya, sekali senggol bisa saya ganti”. Dia diam, saya diam, semua diam.
Begitulah. Yang ingin saya katakan adalah teknologi itu banyak pilihan. Dan sesuaikanlah dengan kebutuhan dan dana Anda, jangan kejar model, apalagi gengsi. Ingat, ini bukan zamannya lagi untuk kejar-kejar model dan gengsi-gengsian. Karena dunia mau kiamat.
Akhir kata, saya ingin mengatakan……
BIJAKSANALAH dalam
Berpikir
Berbicara
Bertindak
Maksimalkan Fungsi Otak
Selaraskan dengan Kata Hati

Why We Care So Much About The Way We Look

 And sometimes I wonder, why we care so much about the way we look,
And the way we talk and the way we act and the clothes we bought, how much that cost?
Does it even really matter?
Judul dan kutipan lirik lagu milik B.o.B feat Taylor Swift, Both of Us. B.o.B adalah seorang penyanyi Hip Hop asal Amerika. Banyak dari lagu-lagunya yang berkisah tentang kehidupan sehari-hari, dilingkungan tempat tinggal dia, Amerika. Yang menariknya adalah, kejadian yang ada di lirik tersebut, tidak hanya terjadi di Amerika saja, akan tetapi terjadi juga di lingkungan kita, Aceh Tercinta.
Bukan bermaksud membandingkan, atau saya yang tidak tahu dengan realita SMA di Banda Aceh. Masih segar di ingatan saya, bagaimana saya menjalani hari-hari di SMAN 11 Medan. Tidak ada intervensi sedikitpun. Yah, mungkin saja kami dulu memakai seragam. Kalau tidak putih abu-abu, ya coklat muda coklat tua. Walaupun begitu, saya aktif di dalam organisasi ekstrakulikuler dan disitu pakaian bebas, asal sopan. Dan disitu saya kejadiannya juga sama, tidak ada yang peduli dengan pakaian orang lain, sekali lagi asal sopan. Dan jika pakaiannya yang dipakai itu tidak sopan, maka orang-orang akan menatap dengan sangat sinis.

Apa sich penyebabnya?????

Menurut yang saya dengar, dari beberapa orang tua di kampung, dan ada juga dari dosen, kebiasaan orang Aceh yang selalu tampil “beda” dan “wah” itu memang sudah ada dari dulu. Mereka juga mengatakan, kebanyakan orang Aceh itu lebih mementingkan “hal yang selalu dilihat” daripada “hal yang lebih dibutuhkan”. Sebagai contoh, banyak orang, terutama anak muda, lebih mementingkan kendaraannya daripada rumahnya. Padahal hal itu kan terbalik. Logika saja, jika kita memiliki sepeda motor yang bagus, keren, yang lain ketinggalan. Terus, rumah yang kita tempati itu tidak bagus, tidak keren, dan selalu ketinggalan. Bukankah nanti apabila ada orang yang “menginginkan” sepeda motor yang bagus, keren, dan yang lain ketinggalan itu akan dengan sangat mudah di ambil??? Waalahua’lam.
Selanjutnya, kebiasaan orang Aceh itu juga dipengaruhi oleh budaya han tem talo (tidak mau mengalah). Karena saya juga selalu mendengar perkataan seperti ini, “Bek takheun Talo, Meu Seri Han Tem (jangankan kalah, imbang pun tidak mau)”. Memang perkataan ini sangat bagus, dan bahkan sangat luar biasa, jika diterapkan dalam hal yang positif. Misalnya, kata-kata ini diucapkan di depan para pemain Persiraja, saya yakin semangat mereka akan berkobar-kobar (Hidup Persiraja!!). Namun, hal yang terjadi malah sebaliknya, banyak yang mengartikan kata-kata ini dalam hal yang negatif (entah kenapa orang sangat tertarik dengan yang negatif). Misalnya, tetangga beli mobil seharga 1 M, maka kita ingin beli mobil yang lebih mahal lagi, 1,1 M. Entah untuk apa. Bukankah semua mobil jalannya pakai ban, semua mobil juga jalan di jalan aspal, yang notabene digunakan juga oleh sepeda motor.

Pakaian Bukanlah Segalanya

Ada sebuah pengalaman “kurang sedap” yang saya alami karena pakaian yang saya pakai. Pada saat itu, saya pergi ke sebuah Café. Café tersebut memiliki 2 lantai, dan lantai kedua ini adalah tempat favorit saya. Tapi entah mengapa, saat kami pergi ke tempat itu, selalu ada pelayan yang “mencegat” saya sebelum saya naik ke lantai 2. Alasan mereka, tidak ada pelayan di lantai 2. Dan hal ini terjadi setiap kami pergi ke café tersebut. Nah, yang mengejutkan saya ada pada “kunjungan” saya yang terakhir. Pada saat itu seperti biasa, sebelum naik ke lantai 2, kami “dicegat”. Selang beberapa menit, sampai sepasang muda-mudi yang tampilannya saya akui sangat “wah”. Setelah mereka duduk, langsung datang seorang pelayan dengan membawa buku menu. Saya terkejut. Kalau saya yang datang, jangankan di tawari minum, belum pun duduk sudah “dicegat”.Crying face
Selanjutnya, masalah pakaian juga selalu menjadi hal yang “heboh” dikelas saya kuliah. Setiap hari, pasti akan ada komentar tentang pakaian. Dan kelas saya akan menjadi histeris jika ada yang memakai pakaian baru. Ribut. Saya pun kadang-kadang bingung, apakah saya masuk di kelas Mahasiswa atau di Kelas Anak SD. Heran. Selanjutnya, di kelas saya, sangat sangat saya akui, ada beberapa Pakar Desainer Top Dunia. Hebat kan???!. Nah, mereka inilah yang selalu memberi komentar terhadap pakaian yang dipakai seseorang. Tentu saja, hasil komentar para pakar ini adalah tolak ukur trend baru di kelas saya. Jika komentarnya positif, maka anak kelas saya yang lain akan berbondong-bondong mengikuti pakaian tersebut. (Semacam plagiat ya)

But wait!!!

Ternyata hal ini tidak hanya terjadi di kelas saya saja. Akan tetapi terjadi juga di kampus saya, bahkan di kampung saya. Ya Allah, Ampunilah Mereka. Semoga Mereka diterima Di Sisi-Nya. Amin.

Ada hal yang lebih Penting.

Kejadian dan kebiasaan ini sangat sering terjadi, bahkan setiap hari, setiap masuk kuliah, setiap bertemu orang lain. Saya heran dengan mereka. Heran karena bakat mereka tidak tersalur di jalan yang benar. Seharusnya, mereka menjadi kritikus desain pakaian saja. Tidak perlu kuliah lagi. Dengan kemampuan yang mereka miliki saat ini, saya yakin mereka akan sukses. Dan kalaupun mereka tidak mampu, maka berhentilah berkomentar tentang pakaian orang lain. Apa gunanya coba???. Saya pikir, selama pakaian yang dipakai itu sopan, sesuai norma, itu tidak menjadi masalah. Mengapa mereka tidak berkomentar pada pakaian mereka sendiri saja, agar penampilan mereka menjadi “wah”, lalu di ikuti oleh para plagiat. Karena yang saya lihat, penampilan mereka tidak lebih bagus dari yang dikomentari. Dan satu hal yang palin penting adalah, mereka adalah mahasiswa FKIP, dimana pakaian itu memang sudah ada aturannya, jadi tidak perlu di atur lagi. Penampilan itu penting, tapi bukanlah segalanya.

Nah, sampai disini dulu, semoga mereka yang suka berkomentar segera bertaubat. Dan saya ingin menyampaikan satu hal. Berhatilah-hatilah dalam berpakaian, berpakaian yang sederhana, sesuai aturan dan norma. dan sebelum memakai pakaian, selalu memohon pertolongan agar terhindar dari para kritikus pakaian di sekitar kita. Doa dimulai.

My Blogging Journey, The Story

Accidentally, Falling in Love

liberating your mind - expressing your voiceMenjadi seorang blogger, merupakan hal yang masih baru bagi saya. Pada saat semester satu dulu, ada seorang teman yang sangat antusias dalam blog, dan sering mengajak saya untuk membuat blog. Pada saat itu, apabila ada bahan kuliah yang diberikan dosen, maka dia yang bertanggung jawab untuk menyebarluaskan kepada kami. Nah, bahan kuliah itulah yang dia posting ke dalam blognya. Tentu saja, hal itu dia lakukan untuk menambah pengunjung blog-nya. Mendengar dari cerita dia, dia sangat ingin meraup Rupiah dari blog-nya. Alasan ini yang membuat saya kurang tertarik untuk menjadi seorang blogger
Sekitar setahun yang lalu, “teman hidup” saya, meminta saya untuk mengganti template blog dia. Walaupun pengetahuan saya akan bahasa HTML pada saat itu saat minim, saya berhasil juga untuk mengganti template seperti yang “si dia” inginkan. Nah, pada waktu itulah saya mulai tertarik untuk menjadi seorang blogger |Berawal dari edit template blog|

Liberating Your Mind | Epressing Your Voice

Pada awalnya, blog yang saya buat ini penuh dengan gadget, pernak-pernik gak jelas. Layaknya siswa SMP dengan rambut mohawk-nya, dengan tangan penuh cincin, plus kalung rantai perak yang sebesar batok kelapa. Yah, begitulah, itukan kreasi si anak SMP itu, begitu juga dengan blog saya. Apabila menemukan sesuatu yang baru, unik, dan aneh, akan langsung saya appy-kan di blog ini. Tapi, itu kan dulu, masa-masa kegelapan dunia blogger saya, dan sekarang sudah ada terang sedikit. Buktinya, kalian bisa lihat sendiri tampilan blog ini(^_^).

Kenapa suka nge-blog??
Yang pertama adalah kita akan terlihat “sedikit” keren dan terlihat profesional, jika kita memiliki blog. Sebagai contoh, di profil Facebook, kita bisa menuliskan alamat blog kita. Dari situ teman-teman akan kagum melihat blog kita, apalagi blog kita berisi banyak tulisan, terus alamat blog-nya sama dengan nama asli kita. (Waw banget pokoknya)

Kedua, kita bisa menulis apapun di blog kita. Ya namanya juga personal blog, jadi kita bisa menulis apapun di blog kalian. Ada gosip terbaru, kita bisa menuliskan pandangan kita di blog sendiri. Ada berita di koran lokal, kalian bisa menceritakan semuanya di blog kita, agar seluruh orang di dunia tahu akan apa yang sedang terjadi di daerah kita.

Ketiga, Kita bisa berbagi ilmu disini. Ahli akan suatu hal??? Kenapa tidak mencoba membaginya kepada orang yang masih belum tahu!! Layaknya cangkir yang berisi kopi yang tidak pernah diminum, namun selalu dituang kopi yang lain ke dalamnya. Begitu juga dengan kemampuan kita. Jika kita mampu akan sesuatu, namun kemampuan kita itu hanya kita simpan dalam otak kita, niscaya suatu hari akan lupa. Daripada begitu, kenapa tidak share saja kepada orang lain??? Toh, kamu akan mendapat pahala kok, Insyaallah

Keempat, Ini bagian kesukaan saya. Saya sangat tergila-gila dengan tampilan blog. Entah berapa kali sudah saya mengganti template ini. Begitu juga dengan kalian, kalian bisa menyesuaikan tampilan blog pribadi kalian sesuka hati. Saat sedang kasmaran, tampilan blognya bernuansa Pink. Cinta diterima, warnanya diganti menjadi warna kesukaan si “doi”. Ketika cinta putus, tampilan bernuansa gelap, kelam. Animasi darah dimana-mana. Terus ada gambar latar cewek/cowok lagi gantung diri (Ini kenapa sich)

It’s Freedom, But Don’t Forget The Law

Nah ini dia, terkadang lupa juga. Tulis ini tulis itu, eh ternyata ada yang komplain. Begitu juga dengan kalian, kalian boleh menulis apapun di blog, asal kalian ingat peraturan yang ada, junjung tinggi moral, dan hargai karya cipta orang lain. Kalian harus menuliskan sumber jika kalian ada mengambil tulisan orang lain. Jangan pernah lupa.

Malu jadi benalu, Malu Copy-Paste Tulisan orang Melulu

Nah sekian dulu posting kali ini. Mengenai orang-orang yang saya ceritakan di atas, ok, akan saya kenalkan. Adapun mereka adalah:
Maslim | dengan blog Hatake Maslim

Terima kasih sudah membaca…Let’s Blogging!!!

Segi Positif dari Menyontek (1)

Segi Positif MenyontekMenyontek, dapat diartikan sebagai melihat atau meniru hasil kerja orang lain, baik seluruh atau sebagian, baik dengan dimodifikasi lagi atau tidak. Menyontek adalah perbuatan “HARAM” bagi pendidikan di Indonesia. Pada saat ujian berlangsung, guru selalu melarang siswanya untuk menyontek. Dan mereka memberi alasan bahwa menyontek itu akan membodohi diri sendiri. Pandangan menyontek akan membuat bodoh ini, telah “ditanam” oleh para guru kepada siswa, dari Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi. Si guru juga tidak segan-segan untuk mengambil atau bahkan merobek lembar jawaban siswa yang menyontek.

Siswa yang menyontek juga akan mendapat julukan “siswa malas”, “bodoh”, “tidak percaya diri”, dan lain-lain. Julukan-julukan ini dapat berasal dari si guru dan siswa yang lain.

Sebab Siswa Menyontek

Pada saat ini, mata pelajaran di sekolah dan mata kuliah di kampus setiap tahun bertambah. Dan setiap mata pelajaran ini, akan di pegang oleh seorang guru. Khusus di kampus, satu mata kuliah bisa di pegang oleh beberapa orang dosen dengan satu dosen koordinator mata kuliah.

Tugas dari semua guru ini adalah memberikan materi kepada siswanya. Dan pastinya, setiap guru berkeinginan agar setiap siswa mengerti dengan materi pelajaran yang diberikannya. Nah, untuk mengetahui si siswa mengerti atau tidak, maka si guru akan memberikan ujian. Dari hasil ujian, para guru rata-rata menyimpulkan bahwa siswa yang nilainya tinggi berarti si siswa tersebut telah mengerti, dan bagi siswa yang mendapat nilai rendah, si guru menganggap si siswa belum mengerti.

Sekarang, mari kita renungkan. Di SMP kelas VII, ada mata pelajaran IPA, IPS, Matematika, Bahasa Indonesia, PKN, Penjaskes, Bahasa Inggris, dan mata kuliah muatan lokal lainnya, yang jika kita totalkan, berjumlah 8 mata pelajaran. 8 mata pelajaran berarti 8 orang guru yang memegang mata pelajaran tersebut. Dan 8 oraang guru tersebut memiliki “keinginan” yang sama, yaitu agar siswa mengerti. Untuk mengetahuinya, UJIAN.

Apa yang terjadi???? Si siswa akan menjadi “balon-balon”, balon yang dipaksa untuk terus di tiup agar terus menjadi besar…Dan akhirnya??? Balon akan MELEDAK!!. Meledak disini bukan berarti kepala si siswa yang meledak, akan tetapi, pikiran mereka yang rusak. Kita tahu, semua orang memiliki keterbatasan, apalagi Anak SMP. Akibat pikiran mereka rusak, mereka tidak dapat berpikiran jernih pada saat UJIAN. Agar mereka tidak di Cap Malas oleh si guru, akhirnya mereka menyontek.

Dan yang paling fenomenal lagi adalah kegiatan ini telah berlangsung puluhan tahun yang lalu [Ya Allah]. Darimana saya tahu??? Ya saya tanya saja kakek saya, ayah saya, dan abang saya. Jawaban mereka semua dapat disimpulkan bahwa “mengerti tidaknya seorang siswa dapat dilihat dari UJIAN”. [Memang lah, orang Indonesia “sangat” cinta dengan sejarahnya.

Hal yang Paling Ironis dari Menyontek

Pada akhir semester 5 kemarin, saya mendapat tugas untuk mengajari Aplikasi Komputer pada Siswa PLPG dari daerah-daerah Aceh. Mereka terdiri dari guru SMP dan guru SMA. Saat itu juga, saya baru sangat-sangat yakin akan pepatah yang mengatakan “Belajar di waktu kecil, bagaikan mengukir di atas batu. Belajar di waktu tua, bagaikan menulis di atas air”. Bagaimana tidak, mereka memang tidak ada niat lagi untuk belajar. Banyak alasan yang mereka sampaikan. Mulai dari lelah, tidak konsen, alasan umur, dan seribu satu alasan lainnya. Saya pun maklum, sehingga materi yang ingin saya sampaikan secara lisan, saya kurangi, lalu saya tambahkan dengan materi hasil fotokopi dari laptop saya. Hal ini saya lakukan untuk menambah kemampuan komputer mereka. Jadi apabila lupa, mereka bisa membuka kertas yang sudah saya berikan tadi.

Nah, karena harus mengikuti “arus”…Saya diperintahkan untuk mengadakan ujian. Setelah soal saya berikan, saya berkata, “Bapak dan Ibu sekalian, mohon dikerjakan sendiri-sendiri, karena soal yang saya berikan merupakan materi kemarin.”. “Iyaaaa…” jawab mereka “kurang'” semangat. Setelah soal saya berikan, saya keluar ruang untuk mengambil air minum (tujuan sebenarnya bukan ini ya). Saya sengaja memperlama kegiatan saya meminum air ini. Kira-kira 5 menit kemudian, saya masuk. Saya terkejut, mereka apalagi. Saya melihat telah terjadi perpindahan penduduk secara besar-besaran disini. Sambil tertawa saya mengatakan, “Ibu dan Bapak sekalian, apa tidak malu jika ada siswa Ibu dan Bapak melihat “kegiatan” ini????”…Mereka malu-malu.

Sangat ironis, seorang guru yang selalu melarang menyontek, ternyata menyontek. Apakah ada Pasal Bodoh disini. Seperti yang kita ketahui, banyak Pasal-pasal bodoh dan menyesatkan terdapat di sekeliling kita pada saat ini. Salah satu contohnya adalah pada masa orientasi sekolah saya dulu. Ada dua pasal yang berlaku. Pasal pertama, senior tidak pernah salah. Pasal kedua, jika senior salah, kembali ke pasal pertama. Astagfirullah. Yahudi mana yang merancang pasal ini. Padahal, kita umat muslim tahu, yang Maha Benar itu hanya Allah, kok bisa pula senior jadi tidak pernah salah. Nah, dalam konteks kejadian guru tadi, apakah Pasal ini juga berlaku??? Yang menyebabkan kesalahan hanya ada pada siswa??? Berarti mereka BUKAN SEORANG GURU.

Bersambung…….