Showing posts with label Cell Biology. Show all posts
Showing posts with label Cell Biology. Show all posts

Macam-Macam Mutasi pada Makhluk Hidup

Pada artikel sebelumnya, saya sudah membahas penyebab terjadinya mutasi. Pada artikel kali ini, saya akan membahas mengenai macam-macam mutasi yang dapat terjadi pada makhluk hidup, baik hewan ataupun tumbuhan. 
Pada dasarnya, mutasi dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu berdasarkan cara terjadinya mutasi, berdasarkan sel tempat terjadinya mutasi, berdasarkan gen, dan kromosom yang mengalami mutasi.

1. Mutasi Alami dan Mutasi Buatan

Berdasarkan cara terjadinya, mutasi dibedakan menjadi dua, yaitu mutasi alami dan mutasi buatan. Mutasi alami adalah mutasi yang terjadi dengan sendirinya tanpa diketahui penyebabnya. Seperti yang telah kalian ketahui, banyak sekali faktor yang dapat menyebabkan terjadinya mutasi di alam ini sehingga kesalahan saat berlangsungnya replikasi DNA sangat mungkin terjadi dengan sendirinya.
Mutasi buatan adalah mutasi yang terjadi secara di sengaja dengan cara menginduksi sel dari suatu organisme dengan suatu mutagen, misalnya radiasi atau bahan kimia tertentu. Seperti yang telah saya bahas sebelumnya, mutasi buatan banyak digunakan dalam bidang pertanian dan peternakan. Contoh hasil mutasi buatan di bidang pertanian adalah buah-buahan tanpa biji seperti semangka, jeruk, dan anggur tanpa biji serta buah-buahan berukuran jumbo.
Barbara McClinctock adalah sarjana genetika tumbuhan terkenal yang pertama kali berhasil melakukan mutasi induksi atau mutasi buatan pada tumbuhan dengan menggunakan kolkisin pada tahun 1930. Dia menyampaikan gagasan yang kemudian diakui kebenarannya bahwa ada bahan genetika yang dapat berpindah dari satu kromosom ke kromosom yang lain. Bagian yang dapat berpindah tersebut pada tahun 1984 disebut sebagai Transponson atau Jumping gene

2. Mutasi Somatik dan Mutasi Germinal

Berdasarkan tempat terjadinya, mutasi dibedakan menjadi dua yaitu mutasi somatik dan mutasi germinal. Mutasi yang terjadi pada sel-sel tubuh atau sel somatik maka disebut sebagai mutasi somatik. Jika mutasi terjadi pada sel-sel kelamin atau sel gamet maka disebut  dengan mutasi germinal.
Apabila mutasi terjadi pada sel somatik maka mutasi tersebut tidak akan diwariskan kepada keturunannya. Mutasi somatik ini dapat bersifat menguntungkan atau merugikan. Contoh mutasi somatik yang menguntungkan adalah mutasi buatan pada buah-buahan super jumbo, sedangkan contoh mutasi somatik yang merugikan adalah kanker kulit.
Apabila mutasi terjadi pada sel-sel gamet maka mutasi tersebut dapat diwariskan kepada keturunannya. Jika mutasi pada sel gamet menghasilkan sifat dominan maka sifat yang mengalami mutasi tersebut akan langsung terekspresikan (tampak atau terlihat) pada keturunannya. Jika mutasi pada sel gamet menghasilkan sifat resesif maka ekspresinya akan tersembunyi pada individu.

3. Mutasi gen

Mutasi yang terjadi pada tingkat gen atau pada tingkat DNA disebut dengan mutasi gen atau mutasi titik. Mutasi gen dapat dibedakan menjadi 3, yaitu mutasi karena adanya perubahan letak nukleotida atau basa nitrogen, penggantian pasangan nukleotida, dan penambahan atau pengurangan nukleotida.

1. Perubahan Letak Nukleotida 

Mutasi ini diakibatkan oleh nukleotida-nukleotida pada untai DNA mengalami pertukaran tempat yang menyebabkan perubahan urutan nukleotida di dalam DNA. Misalnya, urutan nukleotida pada suatu untai DNA adalah AUG AAG UUU GGC GCA UUG UAA, pada urutan nukleotida tersebut ada nukleotida yang mengalami pertukaran tempat yaitu C bertukar tempat dengan G sehingga urutan nukleotida pada daerah tersebut menjadi AUG AAG UUU GCG GCA UUG UAA. Hal tersebut dapat berpengaruh terhadap urutan urutan asam amino pada polipeptida yang akan terbentuk nantinya.

2. Penggantian Pasangan Nukleotida

Pada mutasi ini terjadi penggantian satu nukleotida dan pasangannya oleh nukleotida yang lain. Mutasi ini terdiri dari dua macam yaitu transisi dan transversi. Transisi merupakan penggantian satu nukleotida dalam untai DNA dengan nukleotida lain yang sejenis dan terjadi secara reversibel, Misalnya purin digantikan purin (adenin digantikan guanin) atau sebaliknya dan pirimidin digantikan pirimidin (timin digantikan sitosin) atau sebaliknya. Transversi merupakan penggantian satu nukleotida dengan nukleotida lain yang tidak sejenis, yaitu purin diganti dengan pirimidin atau sebaliknya pirimidin diganti purin dan adenin atau guanin digantikan timin atau sitosin dan sebaliknya.

3. Penambahan atau Pengurangan Nukleotida

Penambahan atau pengurangan satu nukleotida pada suatu gen dapat menimbulkan dampak yang besar pada protein yang dihasilkan. Hal ini karena penambahan atau pengurangan satu nukleotida akan menyebabkan adanya perubahan urutan suatu kodon pada RNA-d sehingga asam amino yang terbentuk menjadi berubah. Mutasi ini disebut juga frameshift mutation.
Apabila mutasi gen terjadi pada intergenic region atau intron maka mutasi tersebut tidak akan menghasilkan fenotip mutan. Lain halnya jika mutasi gen tersebut terjadi pada wilayah coding region atau urutan DNA yang akan diterjemahkan menjadi protein di dalam sel maka akan muncul fenotip mutan. Contoh mutasi gen dapat dilihat pada penderita hemofilia dan sicklemia. Pada penderita sicklemia terjadi perubahan asam amino ke-6 penyusun hemoglobin sel darah merah. Pada hemoglobin sel darah merah normal asam amino ke-6 adalah glutamat sedangkan pada penderita sicklemia adalah valin. Hal tersebut dapat mempengaruhi kemampuan sel darah merah dalam mengikat oksigen.

4. Mutasi Kromosom

Mutasi kromosom disebut juga aberasi kromosom. Mutasi kromosom meliputi perubahan pada jumlah, ukuran, dan organisasi kromosom. Mutasi kromosom tersebut dapat berlangsung dalam berbagai cara. Misalnya, bagian dari kromosom dapat patah dan hilang pada saat mitosis atau meiosis. Kadang-kadang bagian kromosom yang patah atau hilang tersebut bergabung kembali dengan kromosom tetapi dengan cara yang salah atau bagian yang patah tersebut bergabung dengan kromosom yang bukan homolognya. Hal tersebut tentu saja dapat menimbulkan perubahan kode genetik pada gen-gen dalam kromosom.
Mutasi kromosom memiliki pengaruh lebih besar dibanding dengan mutasi gen. Mutasi kromosom mempengaruhi seluruh kromosom sedangkan mutasi gen hanya mempengaruhi gen-gen secara individu yanf terdapat di dalam kromosom. Mutasi kromosom dapat berupa perubahan struktur kromosom dan perubahan jumlah kromosom.

A. Perubahan Struktur Kromosom

Perubahan struktur kromosom dapat terjadi karena perubahan jumlah gen dalam pemotongan atau perubahan letak gen dalam kromosom. Perubahan jumlah gen dalam kromosom meliputi delesi dan duplikasi sedangkan perubahan letak gen dalam kromosom meliputi inversi dan translokasi.


1. Delesi

Delesi terjadi jika kromosom kehilangan sebagian segmennya. Hal ini terjadi karena bagian kromosom yang patah menghilang atau menempel pada kromosom lain. Contoh delesi adalah penyakit Cri Du Chat (tangisan kucing)  yang disebabkan oleh adanya delesi pada kromosom tubuh nomor 5. Penderita Cri Du Chat biasanya tidak berumur panjang. Penderita Cri Du Chat memiliki suara tangisan seperti suara kucing dan mengalami keterbelakangan mental. Selain itu, delesi juga dapat menyebabkan penyakit defisiensi enzim glukosa 6 fosfat dehidrogenase yang banyak ditemukan di Indonesia.

2. Duplikasi

Duplikasi terjadi ketika ada pengulangan sebagian segmen kromosom sehingga suatu segmen kromosom bisa berada lebih dari satu kali dalam satu perangkat koromosom. Hal ini terjadi jika patahan suatu kromosom menempel pada kromosom lain. Contoh peristiwa duplikasi adalah gen molat dehidrogenase atau MDH mempunyai ukuran dan struktur molekul yang mirip dengan laktat dehidrogenase atau LDH. Para pakar menduga bahwa gen MDH merupakan hasil mutasi dari gen LDH setelah mengalami duplikasi. 

3. Inversi

Inversi terjadi ketika ada pemutarbalikan segmen kromosom. Inversi terjadi jika kromosom patah dan segmen yang patah bergabung kembali dalam keadaan terbalik. Jika segmen yang terbalik mencakup sentromer maka disebut dengan inversi perisentrik. Jika segmen yang terbalik tidak mencakup sentromer maka disebut dengan inversi parasentrik.

4. Translokasi 

Translokasi terjadi ketika ada perpindahan segmen kromosom dari satu kromosom sel kromosom yang lain. Jika pertukaran segmen terjadi antara dua kromosom nonhomolog maka disebut dengan translokasi resiprokal. Translokasi resiprokal ini merupakan bentuk yang paling umum. Segmen kromosom juga dapat berpindah ke lokasi baru dalam kromosom yang sama atau kelompok lain tanpa diikuti oleh perpindahan segmen dari kromosom yang lain. Perpindahan kromosom yang demikian itu dinamakan transposisi.

B. Perubahan Jumlah Kromosom

Jumlah kromosom pada sel makhluk hidup umumnya selalu tetap. Akan tetapi ada beberapa peristiwa yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan jumlah kromosom dalam sel makhluk hidup. Misalnya, proses pemisahan kromosom selama pembelahan sel terganggu sehingga kromosom mengalami gagal berpisah. Akibat dari peristiwa gagal berpisah tersebut adalah sel-sel yang dihasilkan ada yang kelebihan kromosom dan ada yang kekurangan kromosom bahkan ada juga sel anak yang tidak mendapatkan kromosom. Selain itu perubahan jumlah kromosom juga dapat disebabkan oleh adanya peristiwa pindah silang atau perubahan kombinasi kromosom.
Perubahan jumlah kromosom dapat berupa euploidi dan aneuploidi. Euploidi adalah perubahan seluruh set kromosom sedangkan aneuplodi adalah perubahan satu atau beberapa kromosom dalam satu set kromosom.

1. Euploidi

Euploidi meliputi monoploidi, triploidi tetraploidi dan poliploidi. Organisme monoploidi (n) adalah organisme yang hanya memiliki satu perangkat kromosom di dalam sel-sel nya. Contoh organisme monoploidi adalah lebah madu jantan karena lebah madu jantan tumbuh dari sel telur yang tidak dibuahi.
Organisme triploidi (3n) adalah organisme yang memiliki tiga perangkat kromosom di dalam sel somatiknya. Umumnya individu triploidi merupakan individu yang steril seperti semangka dan jeruk tanpa biji
Organisme tetraploidi (4n) merupakan organisme yang memiliki 4 perangkat kromosom di dalam sel somatiknya. Organisme tetraploidi biasanya bersifat fertil.
Organisme poliploidi biasanya memiliki lebih dari dua perangkat kromosom (2n). Misalnya triploidi (3n), tetraploidi (4n), heksaploidi (6n) dan oktaploidi (8n). Poliploidi umumnya terjadi pada tumbuhan dan jarang sekali terjadi pada hewan. Tumbuhan poliploid dapat dilihat pada tumbuhan budidaya jagung, kentang, gandum dan sebagainya

2.Aneuploidi

Aneuploidi meliputi nulisomik, monosomik, trisomik, dan tetrasomik. Organisme nulisomik (2n-2) adalah organisme yang di dalam sel-sel nya kehilangan 2 kromosom yang sejenis atau homolog. Organisme nulisomik memiliki peluang hidup yang sangat kecil.
Organisme monosomik (2n-1) adalah organisme yang kehilangan satu kromosom dalam perangkatnya. Misalnya hilang satu kromosom X pada manusia menyebabkan terjadinya sindrom Turner
Organisme trisomi (2n+1) adalah organisme yang memiliki kelebihan satu kromosom dalam sel-selnya. Misalnya, kelebihan kromosom X pada laki-laki akan menyebabkan terjadinya sindrom klinefelter. Komposisi kromosom pada penderita sindrom klinefelter tersebut adalah 44A + XXY. Selain itu kelebihan kromosom nomor 21 pada manusia menyebabkan Sindrom Down.
Organisme tetrasomik (2n+2) adalah organisme yang kelebihan dua kromosom sejenis.

Demikianlah yang dapat saya bahas. Terima kasih sudah membaca, semoga bermanfaat.

6 Penyebab Mutasi Sel yang Harus Kamu Ketahui

6 Penyebab Mutasi Sel

Pada dasarnya, proses replikasi DNA pada tahap pembelahan sel selalu berlangsung tanpa kesalahan. Ketepatan dan kebenaran dalam mengopi materi genetik tersebut sangat penting untuk memastikan kelangsungan genetik pada sel baru yang terbentuk maupun keturunannya. Namun pada kenyataaannya, banyak sekali kemungkinan-kemungkinan di alam ini yang dapat menyebabkan terjadinya kesalahan atau perubahan dalam materi genetik (mutasi). Adapun beberapa hal penyebab mutasi sel tersebut adalah sebagai berikut.

1.    Tautomer

Tautomer adalah stereoisomer asam nukleat. Stereoisomer menyebabkan adanya pasangan basa nukleotida berbeda dari pasangan seharusnya. Pada keadaan normal, pasangan guanin (G) adalah sitosin/ cytosine (C), sedangkan pasangan adenin (A) adalah timin (T). Akan tetapi, karena adanya stereoisomer, pasangan-pasangan basa nukleotida tersebut menjadi berbeda, seperti A berpasangan dengan C, sedangkan G berpasangan dengan T. Begitu pula sebaliknya, C berpasangan dengan A dan T berpasangan dengan G. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya mutase sel.

2.    Struktur analog

Di dalam tubuh organisme terdapat beberapa molekul yang memiliki struktur yang sama dengan asam nukleat. Pada keadaan tertentu, molekul-molekul tersebut dapat menempati salah satu tempat asam nukleat tertentu. Beberapa molekul yang memiliki struktur sama dengan asam nukleat adalah inosin, hipoxantin, bromourasil, bromodioksi, uridin, 2-aminopurin. Molekul-molekul tersebut bukan merupakan molekul asing sehingga sel tidak melakukan denaturasi. Akan tetapi, molekul-molekul tersebut tidak dapat berfungsi sebagai asam nukleat sehingga dapat menimbulkan kesalahan dalam proses selanjutnya.

3.    Inhibor (penghambat)

Inhibor adalah zat penghambat. Ada beberapa molekul tertentu yang menempati ruang DNA yang seharusnya diisi asam nukleat namun bersifat menghambat. Misalnya akridin, pseudouridin, metil inosin, ribo timin, metil guanosin, dan dihidroksi uridin. Jika molekul-molekul tersebut menempati posisi asam nukleat  maka akan terjadi mutasi.

4.    Zat mutagenik (zat kimia yang dapat menyebabkan mutasi)

Sejumlah zat seperti asam sitrat, nitrogen mustard, dan peroksida dapat bereaksi dengan asam nukleat tertentu sehingga asam nukleat tersebut akan mengalami perubahan. Perubahan ini dapat menimbulkan kesalahan informasi

5.    Radiasi

Radiasi dapat berupa radiasi sinar radioaktif maupun radiasi sinar ultraviolet. Sinar radioaktif memiliki energi yang sangat tinggi sehingga terdapat beberapa kemungkinan yang dapat menyebabkan terjadinya mutasi. Radiasi sinar radioaktif dapat menyebabkan terbentuknya peroksida dari molekul air. Peroksida yang terbentuk dapat melakukan oksidasi sehingga bersifat mutagenik. Radiasi juga dapat menyebabkan dimerisasi timin. Akibatnya, timin tidak dapat berfungsi dalam memberikan informasi genetic. Selain itu, radiasi sinar radioaktif juga dapat menyebabkan putusnya rantai DNA. Itulah sebabnya, radiasi dapat dijadikan sebagai salah satu metode sterilisasi.
Radiasi sinar ultraviolet memiliki daya tembus hanya beberapa millimeter saja. Akan tetapi, sinar ultraviolet tersebut sudah dapat menembus sel dan memutuskan DNA, bahkan sudah dapat merusak asam nukleat. Contoh mutase akibat radiasi sinar ultraviolet adalah kanker kulit.

6.    Mutagen biologis

Beberapa jenis virus dapat menyebabkan mutasi. Selain itu, mutasi kromosom (aberasi) sering terjadi pada manusia lanjut usia. Hal ini disebabkan oleh menurunnya kadar dan fungsi hormon.

Demikianlah 6 penyebab mutase sel. Silahkan klik pada link berikut untuk membaca Beberapa kemungkinan akibat mutase sel pada halaman 

Perbedaan Media Selektif dengan Media Diferensial

Di dalam dunia mikrobiologi, media pertumbuhan bakteri merupakan hal yang sangat penting untuk dikenali oleh seorang peneliti maupun praktisi. Media pertumbuhan bakteri dapat dikelompokkan berdasarkan bentuk dan fungsinya. Berdasarkan fungsinya, media dapat dibagi menjadi media basal (media dasar), media selektif, media diferensial, media diperkaya (enrichment), dan media uji. Pada kesempatan kali ini, saya hanya membahas perbedaan media selektif dan media diferensial saja, karena kedua media ini yang selalu membuat bingung pada waktu ujian. Kedua media ini sangat penting dalam proses identifikasi bakteri.

1.    Media Selektif (Selective Media)

Media selektif adalah media yang mampu menumbuhkan bakteri tertentu (bakteri target atau bakteri yang kita inginkan) dan menghambat pertumbuhan bakteri lain (bakteri non target). Kata kunci disini adalah “selektif”, yang artinya memilih. Salah satu contoh media selektif adalah Phenylethyl Alkohol Agar (PEA). PEA berfungi untuk menumbuhkan bakteri Gram positif. PEA mengandung alcohol, sehingga mampu menghambat pertumbuhan bakteri Gram negative.

2.    Media Diferensial (Differential Media)

Media diferensial berfungsi untuk membedakan karakter tertentu dari bakteri yang dekat kekerabatannya. Karakter tersebut dapat berupa warna dan bentuk dari koloni. Perbedaan karakter yang terbentuk tersebut menjadi tahap yang sangat penting dalam proses diferensiasi dan dasar untuk proses identifikasi selanjutnya.  Kata kunci disini adalah “differentiate”, yang artinya membedakan. Salah satu contoh media diferensial adalah Eosin Methylene Blue Agar (EMBA). EMB Agar berfungsi untuk membedakan bakteri yang mampu memfermetasikan dengan bakteri yang tidak mampu memfermentasikan laktosa. Jika ada jenis bakteri yang mampu memfermentasikan laktosa, maka bakteri tersebut akan membentuk warna, sedangkan jenis bakteri yang tidak mampu memfermentasikan laktosa, biasanya tidak ada warna yang terbentuk dari koloni bakteri tersebut. Contoh yang paling banyak ditemui adalah terbentuknya warna hijau metalik dari koloni E. coli.

Bentuk dan warna koloni E.coli pada media EMBA
Gambar 1. Bentuk dan warna koloni E.coli pada media EMBA (Sumber: http://www.microbelibrary.org/component/resource/laboratory-test/2869-eosin-methylene-blue-agar-plates-protocol).


Beberapa contoh media selektif dan fungsinya.

1.    Phenylethyl Alcohol Agar (PEA), berfungsi untuk menumbuhkan bakteri Gram positif dan menghambat bakteri Gram negative.
2.    Columba CNA with 5% Sheep Blood Agar, dapat juga berfungsi sebagai media diferensial, namun media ini mampu menghambat sebagian besar bakteri Gram negative.
3.    Mannitol Salt Agar (MSA), merupakan media selektif untuk menumbuhkan bakteri jenis staphylococcus.  Media MSA juga dapat berfungsi sebagai media diferensial, dimana hanya bakteri jenis S. aureus yang mampu menghasilkan warna koloni berwarna kuning dan disekitar koloni.
Contoh warna koloni bakteri yang tumbuh pada media MSA
Gambar 2. Contoh warna koloni bakteri yang tumbuh pada media MSA (Sumber: Leboffe & Pierce, 2012).
4.    MacCongkey Agar (MCA), berfungsi sebagai media diferensiasi dari golongan bakteri Enterobacteriaceae berdasarkan kemampuannya dalam memfermentasikan laktosa.
5.    Eosin Methylene Blue Agar (EMBA), berfungsi sebagai media selektif, dengan menghambat pertumbuhan bakteri Gram positif. Media ini juga dapat berfungsi sebagai media diferensiasi antara E.coli dengan Enterobacter ataupun Klebsiella.

Sumber:
Leboffe, M.J., dan Pierce, B.E. 2012. Brief Microbiology Laboratory Theory & Application 2nd Edition. Englewood: Morton Publishing.
http://fire.biol.wwu.edu/brodham/biol346_S07/labman_week6.pdf.
http://www.microbelibrary.org/component/resource/laboratory-test/2869-eosin-methylene-blue-agar-plates-protocol.

Apakah Mikroba ada di Udara?

Ketika bakteri hidup di udaraMikroba dapat hidup dimana-mana, di tanah, di air, bahkan di lingkungan ekstrim sekalipun, misalnya lingkungan bersuhu tinggi dan berkadar garam tinggi. Nah, yang menjadi judul postingan saya kali ini adalah apakah mikroba bisa hidup di udara… (??)
Yang Bertanya : Memangnya bisa??I don't know smile
Saya jawab : Baca dulu, nanti akan tahu sendiri jawabannyaSarcastic smile
Sebenarnya, udara bukanlah tempat hidup bagi mikroba. Namun, ada ditemukan flora mikroba yang ada di udara, dan itu bersifat sementara. Udara sendiri bukanlah medium untuk pertumbuhan mikroba. Namun, udara mengandung bahan partikulat, debu, dan tetesan air. Semua partikel yang dikandung oleh udara ini sangat memungkinkan untuk dijadikan “rumah sementara” oleh mikroba. Kandungan mikroba itu sendiri dapat berasal dari saluran pernafasan manusia (yang keluar ketika kamu batuk dan bersin), Air Conditioner yang jarang dibersihkan, dan lain-lain.
Untuk itulah sebabnya, ketika kamu flu, batuk-batuk, akan lebih bijak kalau kamu membawa sapu tangan, agar orang lain tidak tertular ketika kamu batuk ataupun bersin.
Oya, jangan remehkan mikroba yang ada di udara ya, yah walaupun mereka itu hanya satu koloni saja, ketika mereka mendapatkan tempat hidup yang bagus (dalam tubuh kita), maka kita akan “sakit”. Dalam kasus ini, “sakit” berarti sedang aktifnya pertahanan tubuh untuk melawan si mikroba ini..Iya kalau kita sehat, gizi kita bagus..mungkin “sakit” yang kita derita cuma sebentar, tapi kalau makanannya cuma mie Instan selalu…kan lain ceritanya…
Untuk sekedar informasi, ada beberapa mikroba, termasuk virus, yang dapat menyebar melalui udara:
  • Streptococcus pyogenes : penyebab penyakit faringitis, radang tenggorokan tanpa dahak, demam rematik, dan glomerulonefritis. Kuman ini dapat disebarkan melalui bersin.
  • Corynebacterium diptheriae : menyebabkan penyakit difteri, yaitu penyakit saluran pernafasan bagian atas.
  • Mycobacterium tubercolusis : menyebabkan penyakit tubercolusis (TBC). Dapat tersebar melalui udara, terutama terdapat dalam dahak.
  • Streptococcus pneumoniae : kuman ini dulunya bernama Diplococcus pneumoniae. Kuman ini menyebabkan penyakit pneumonia. 95% penderita pneumonia disebabkan oleh kuman ini. 5% penderita pneumonia yang lain disebabkan oleh Haemophilus influenza.
  • Neisseria meningitidis : menyebabkan penyakit meningitis (radang selaput otak dan sumsum tulang belakang).
  • Bordetella pertussis : menyebabkan penyakit pertusis atau batuk rejan.
  • Rhinovirus : menyebabkan penyakit sindroma (serangkaian gejala yang mencirikan suatu penyakit) selesma.
  • Influenza : menyebabkan penyakit influenza.
Nah bagaimana? Banyak juga bakteri udara ya?? tapi ingat, mereka tidak hidup di udara secara permanen, udara merupakan medium sementara mereka, kalau mereka “jatuh” di tempat yang cocok, mereka akan berkembang biak. Kalau tidak jatuh, ya mereka akan mati. (Kata Gus Dur, gitu aja kok repotNyah-Nyah). Satu lagi, kalau ingin mengetahui lebih jelas tentang deskripsi penyakit di atas, silahkan tanya mas gugel, saya belum sempat tanyaAngel.

Macam Sel (4)

SERI KONSEP SEL
Bagian 4: Macam Sel

Macam Sel

Berdasarkan ada tidaknya membran inti, sel dibedakan menjadi dua kelompok utama, yaitu sel prokariotik dan sel eukariotik.

A. Sel Prokariotik

Sel prokariotik tidak memiliki membran inti. Artinya, materi inti berupa ADN tidak diselaputi oleh suatu membran. Secara struktural sel ini sangat sederhana karena tidak memiliki banyak macam organel jika dibandingkan dengan sel eukariotik.

B. Sel Eukariotik

Berbeda dengan sel prokariotik, sel eukariotik memiliki membran inti. Pada umumnya, sel-sel eukariotik berukuran lebih besar dari sel-sel prokariotik. Semua anggota Kingdom Protista, Fungi, Plantae, dan Animalia tersusun dari sel-sel eukariotik.
Macam Sel

Gambar Silia Sel Epitel Paru


Perbedaan Sel Prokariotik dengan Sel Eukariotik

Komponen
Prokariotik
Eukariotik
Dinding Sel Ada Tidak ada pada hewan (ada pada tumbuhan)
Sentriol dan mikrotubula Tidak ada Ada pada hewan (Tidak ada pada tumbuhan)
Kloroplas Ada (pada beberapa sel) Ada (pada beberapa sel)
Materi Genetika Kromosom tunggal (ADN) Banyak kromosom (ADN + Protein)
Silia Tidak ada Ada
Sitoskeleton Tidak ada Ada
RE Tidak ada Ada
Flagel Ada Ada (pada beberapa sel)
Badan Golgi Tidak ada Ada
Lisosom Tidak ada Ada
Mitokondria Tidak ada Ada
Nukleus Tidak ada Ada
Membran plasma Ada Ada
Ribosom Ada Ada
Vakuola Ada Ada
Vesikel Ada Ada
Dengan selesainya materi Macam-macam sel, maka selesai juga Seri Konsep Sel. Apabila ada kekurangan, mohon diberi komentar.

Struktur dan Fungsi Sel (3)

SERI KONSEP SEL
Bagian 3: Struktur dan Fungsi Sel
Bagian 4: Macam Sel

Struktur dan Fungsi Sel

Struktur dan Fungsi SelSel merupakan bagian terkecil dari makhluk hidup yang mampu berdiri sendiri dan menunjukkan ciri-ciri khas kehidupan. Sebagian bagian terkecil dari makhluk hidup, sel tidak dapat dibagi lagi menjadi bagian yang lebih kecil sehingga dapat menjalankan fungsinya. Itulah sebabnya sel dikatakan sebagai unit terkecil dalam kehidupan.
Sel juga dikenal sebagai unit struktural dan unit fungsional. Dikatakan sebagai unit struktural karena sel merupakan komponen penyusun jaringan semua tubuh makhluk hidup, baik uniseluler maupun multiseluler. Dikatakan sebagai unit fungsional karena di dalam setiap sel berlangsung berbagai reaksi kimia dan proses hidup. Dengan adanya suatu sistem koordinasi, beberapa fungsi sel tertentu akan bersatu melakukan berbagai proses di dalam tubuh makhluk hidup.
Pemahaman tentang sel dan sebagai unit fungsional, mungkin akan lebih mudah dimengerti dengan mempelajari penyakit pada tubuh, misalnya diabetes atau kanker prostat. Pada dasarnya, penyakit demikian muncul karena adanya gangguan fungsional pada sel-sel pankreas dan prostat atau organ yang bersangkutan.

Nilai Kehidupan dari Sel

Kita bisa membuat sebuah anggapan, sel itu adalah seorang Manusia, dan tubuh yang disusun oleh jutaan sel itu adalah Masyarakat. Setiap sel mampu berdiri sendiri, sehinggap disebut Uniseluler. Dan jika ada sel yang tidak mampu berdiri sendiri, sehingga membutuhkan sel lain, maka disebut Multiseluler. Contoh dari Uniseluler adalah Amoeba, yang tidak jelas bentuknya, kemana-mana sendiri, dan rentan dimakan sel yang lebih besar. Coontoh dari Multiseluler adalah manusia, makhluk sosial.
Sekarang, ayo kita bandingkan, siapa yang lebih hebat??? Tentu saja makhluk multiseluler. Karena terdiri dari banyak sel, maka akan ada sel yang lain untuk mengganti tugasnya. Begitulah seharusnya Manusia. Manusia selalu membentuk masyarakat dimana pun dia berada. baik di rumah, sekolah, kampus, ataupun masyarakat tempat tinggalnya. Manusia harus bisa menyesuaikan keadaannya dimana pun dia berada. Dan seseoarang tidak boleh merendahkan apabila ada orang yang meminta pertolongan. Karena kita tidak akan selalu bisa berdiri sendiri. Tidak boleh juga selalu meminta bantuan, kita juga harus berusaha terlebih dahulu.
Nah, bagi orang yang tidak peduli dengan masyarakatnya???? Dialah si Amoeba itu. Lihatlah, dalam beberapa hal yang kecil, dia memang hebat. Namun, ketika masalah besar datang, dia tidak mampu mengatasinya, dan hidupnya tidak punya arah, tidak punya bentuk, sama seperti Amoeba.

Sejarah Teori Sel (1)

Sel adalah bagian terkecil dari makhluk hidup yang mampu berdiri sendiri dan menunjukkan ciri-ciri khas kehidupan. Walaupun sel ukurannya sangat kecil, namun menurut saya penjelasan tentang sel ini tidak mampu saya jelaskan dalam satu postingan saja.

Nah, untuk itu saya membuat beberapa bagian mengenai konsep sel ini yang akan saya posting secara berkala.

SERI KONSEP SEL

Bagian 1: Sejarah Perkembangan Teori Sel
Bagian 2: Komponen Kimiawi Sel
Bagian 3: Struktur dan Fungsi Sel
Bagian 4: Macam Sel

Sejarah Perkembangan Teori Sel

Konsep tentang sel sangat penting dalam ilmu biologi. Hal ini karena sel ada pada setiap makhluk hidup. Konsep tentang sel tidak muncul begitu saja, melainkan dari penelitian yang menggunakan alat-alat sederhana, sampai menggunakan alat-alat yang sangat canggih.

Sel pertama sekali dilihat oleh Anton van Leeuwenhoek (1632-1723) denganSejarah Perkembangan Teori Sel - Antonie van Leeuwenhoek menggunakan mikroskop sederhana yang berhasil diciptakannya. Namun pada saat itu, istilah sel belum digunakan. Beliau hanya menganggap “sel” tersebut adalah hewan-hewan kecil yang bergerak-gerak di dalam air. Leeuwenhoek juga merupakan orang pertama yang mengakui hewan-hewan kecil yang dilihatnya ini merupakan satuan-satuan kehidupan.

Istilah sel pertama sekali diperkenalkan oleh Robert Hooke (1635-1703). Beliau menyebut sel (cellula = kamar) setelah melakukan penelitian dengan menyayat tipis gabus yang berasal dari pohon oak. Karena pada saat itu mikroskop masih sangat sederhana, sel-sel ini terlihat seperti suatu persegi, sehingga beliau menyebutnya sel.

Setelah istilah sel ini dikenal, Felix Dujardin (1835) mengemukakan bahwa bagian penting dari sel adalah isi sel. Isi sel terdiri atas materi hidup yang kita kenal saat ini adalah protoplasma yang berarti zat pertama dibentuk. Nah, istilah protoplasma ini sendiri diperkenalkan oleh J. Purkinye pada tahun 1839. Pemberian istilah protoplasma ini sendiri bertujuan untuk membedakan antara bagian hidup dan dinding sel yang mati.

Di tempat yang berbeda, pada tahun 1838, Mathias Jacob Schleiden (ahli botani) menyatakan bahwa semua tumbuhan tersusun dari satuan kecil seluar. Pada tahun selanjutnya, yaitu tahun 1839, Theodor Schwan (ahli zoologi) juga mengutarakan pendapat yang sama, namun lebih khusus kepada hewan. Beliau menyatakan bahwa semua hewan terdiri atas sel. Oya, saya hampir lupa. Kedua ahli biologi ini berkebangsaan Jerman lho. |Orang Indonesia pada saat itu sedang memikirkan apa ya???|

Dari pendapat-pendapat mereka inilah yang berkembang menjadi teori sel seperti yang kamu kenal pada saat ini.

Ada satu orang lagi yang juga sangat penting dalam sejarah teori sel, yaitu Rudolf Virchow (1858). Beliau membantu melengkapi rumusan teori sel terdahulu dengan temuannya bahwa setiap sel berasal berasal dari sel-sel sebelumnya, omnis cellula e cellula.

Pada saat ini, perkembangan dan penerapan teori sel sangat berkembang cepat. Pandangan tentang sel merupakan suatu hal yang sangat sederhana pun telah berubah. Dan bahkan, ada cabang ilmu baru lainnya yang lahir dari konsep sel, misalnya Genetika.

Sedikit Pesan.

Saya harap, setelah membaca tentang sejarah perkembangan teori sel ini, kita tidak hanya sekedar mengetahui sejarahnya semata, ataupun mengerti akan bagaimana teori tentang sel itu berkembang. Ada nilai-nilai yang sangat penting untuk kamu ketahui dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti yang telah kamu baca. Teori ini lahir dari penelitian sesorang, lalu disempurnakan oleh orang lain, dan akan terus disempurnakan. Begitu juga dengan kehidupan kita. Kita tidak akan mungkin langsung menjadi sukses pada saat dilahirkan. Selalu ada perbaikan dalam diri kita agar mampu mencapai kesuksesan. Untuk itu, jika kamu ingin sukses, mulailah dari hal yang sederhana. Perbaiki apapun hasilnya. Insyaallah kesuksesan akan kamu raih.