Showing posts with label Biology. Show all posts
Showing posts with label Biology. Show all posts

Mengenal Morfologi Koloni Bakteri

Pembahasan mengenai morfologi koloni berhubungan dengan pembahasan sebelumnya mengenai teknik isolasi bakteri menggunakan metode streak plate. Identifikasi morfologi koloni bakteri dapat dilakukan setelah proses isolasi. Pengetahuan mengenai morfologi koloni bakteri mutlak diperlukan jika kalian ingin melakukan identifikasi bakteri.
Seperti yang telah kalian ketahui, koloni terbentuk dari pembelahan sel bakteri yang tumbuh terpisah dari proses isolasi sebelumnya. Morfologi koloni yang terbentuk dipengaruhi oleh factor genetic bakteri dan factor lingkungan seperti ketersediaan nutrisi, suhu, dan waktu inkubasi. Morfologi koloni bakteri dapat berupa warna, ukuran, bentuk, dan tekstur dari suatu koloni.

Bentuk Bentuk Morfologi Koloni

Adapun beberapa bentuk morfologi koloni bakteri yang perlu diketahui adalah sebagai berikut
  • Bentuk (shape) koloni, dapat berupa circular (bulat beraturan), irregular (tidak beraturan), dan punctiform (berupa titik)
  • Bentuk margin atau bentuk pinggiran koloni, dapat berupa entire (halus dan beraturan), undulate (bergelombang), lobate, filamentous (berfilamen), dan rhizoid (bercabang seperti akar)
  • Elevasi koloni, dapat dilihat melalui sisi samping cawan Petri, dapat berupa flat (rata), raised, convex, pulvinate (lebih tinggi dari convex), dan umbonate (raised in the center)
  • Tekstur koloni, dapat berupa moist, mucoid, dan dry (kering)
  • Pembentukan pigmen atau warna koloni, berupa warna koloni yang terbentuk, dapat pula digabungkan dengan penampakan warna lainnya seperti opaque (buram), translucent (agak transparan), shiny (mengkilap), dan dull (pucat)
Bentuk-bentuk morfologi koloni bateri
Bentuk-bentuk morfologi koloni bateri (Sumber: Leboffe & Perce, 2012)


Cara Melakukan Identifikasi Koloni Bakteri

Seperti yang telah saya katakan di awal paragraf, identifikasi morfologi koloni bakteri merupakan tahap yang sangat penting dalam proses identifikasi bakteri. Setelah kalian mendapatkan koloni murni dari hasil isolasi, koloni tersebut dapat langsung diidentifikasi morfologi koloninya, atau apabila ingin lebih meyakinkan, kalian bisa menumbuhkan kultur murni tersebut ke media baru. Adapun langkah-langkah melakukan identifikasi morfologi koloni adalah sebagai berikut
  • Ambillah salah satu kultur murni hasil isolasi
  • Perhatikan semua ciri di atas, lalu catat pada log book kalian, untuk melihat elevasi, dapat dilakukan dengan cara melihat dari sisi cawan Petri. Untuk melihat margin, kalian dapat menggunakan kaca pembesar atau colony counter.
  • Ambil foto sebagai bahan dokumentasi
  • Simpan kembali kultur murni ke dalam incubator

Hal yang harus diperhatikan dalam Identifikasi Morfologi Koloni Bakteri

Ada beberapa hal dapat mempengaruhi ciri-ciri morfologi koloni bakteri, diantaranya adalah ketersediaan nutrisi, suhu, dan waktu inkubasi. Agar dapat memperoleh informasi yang valid dan tidak salah tafsir, kalian harus memperlakukan semua kultur murni dengan perlakuan yang sama, seperti menumbuhkan pada media yang sama, menginkubasi pada suhu yang sama, dan mengamati pada waktu yang sama.

Sumber gambar
Leboffe, M.J., dan Pierce, B.E. 2012. Brief Microbiology Laboratory Theory & Application 2nd Edition. Englewood: Morton Publishing. 

Mengenal Metode Streak Plate dalam Isolasi Bakteri

Media kultur adalah media yang sudah ditumbuhi oleh mikroorganisme. Media kultur terbagi menjadi kultur campuran dan kultur murni. Kultur campuran adalah media kultur yang ditumbuhi oleh beberapa jenis mikroorganisme, sedangkan kultur murni adalah media kultur yang ditumbuhi oleh satu jenis mikroorganisme saja. Proses memindahkan suatu kultur campuran untuk menjadi kultur murni merupakan langkah awal dalam tahap identifikasi mikroorganisme. Proses tersebut juga biasa dikenal dengan proses isolasi. Untuk identifikasi bakteri, jenis isolasi yang sering digunakan adalah metode streak plate (cawan gores).
Dalam proses isolasi metode streak plate, sampel bakteri akan dipindahkan ke media pertumbuhan baru dengan cara menggoreskannya di atas media pertumbuhan tersebut. Kalian dapat memindahkannya menggunakan jarum ose steril atau bisa juga menggunakan cotton swab steril. Penggunaan jarum inokulasi tidak dianjurkan dalam proses isolasi streak plate karena memiliki kemungkinan yang sangat besar untuk merusak media. Pada proses penggoresan (streaking), jumlah sel dari koloni yang telah diambil akan semakin menurun yang pada akhirnya akan menyisakan beberapa koloni yang terpisah. Koloni-koloni yang terpisah tersebut selanjutnya dipindahkan ke media pertumbuhan baru. Hasil dari pemindahan inilah yang disebut dengan kultur murni, dimana yang tumbuh pada media pertumbuhan baru tersebut hanya terdiri dari satu jenis bakteri saja.
Ada beberapa cara menggaris di proses isolasi metode streak plate, diantaranya adalah zig-zag streak dan quadrant streak. Pemilihan cara menggaris ini disesuaikan dengan kebutuhan kalian sebagai peneliti. Walaupun demikian, perlu diingat bahwa kedua cara menggaris tersebut memiliki tujuan yang sama yaitu untuk mendapatkan koloni murni.

Jenis-jenis Metode Streak Plate berdasarkan cara inokulasinya

1. Inokulasi pada cawan agar menggunakan Quadrant Streak Method

Apabila jenis bakteri yang hidup pada media pertumbuhan memiliki jumlah yang sangat banyak, maka kalian bisa menggunakan Quadrant Streak Method. Dari namanya saja, kita dapat mengetahui bahwa metode ini terdiri empat tahap (quad) dan empat goresan yang berbentuk persegi (quadrant). Di tarikan, biasanya terdiiri dari tiga sampai garis zig-zag, dan antara tarikan pertama dan tarikan kedua, harus ada bagian tarikan yang kedua mengenai tarikan yang pertama. Begitu selanjutnya sampai tarikan yang keempat.
Contoh Quadrant Streak Method
Contoh Quadrant Streak Method


2. Inokulasi pada cawan agar menggunakan Zig-zag Streak Method

Berbeda dengan Quadrant Streak Method, penggunaan Zig-zag Streak Method dilakukan pada saat isolasi bakteri dari media pertumbuhan dengan jumlah bakteri yang hidup sedikit. Pemilihan ini didasarkan pada dua hal, yang pertama adalah jumlah bakteri yang hidup dan yang kedua adalah kesukaran dalam menggoresnya. Pada beberapa kesempatan, saya sering menggunakan Zig-zag Streak Method untuk peremajaan kultur bakteri. Beberapa orang sering menyamakan antara Zig-zag Streak Method dengan Continuous Streak Method, padahal, jika kita memperhatikan dengan seksama, terdapat perbedaan yang mencolok yaitu sudut tarikannya. Jika Zig-zag Streak Method setiap sudut tarikannya itu runcing, sedangkan Continuous Streak Method lebih beralur dan tidak bersudut.
Contoh Zig-zag Streak Method
Contoh Zig-zag Streak Method

Metode Sterilisasi Kimia dalam Mikrobiologi

Di dalam mikrobiologi, sterilisasi merupakan proses yang sangat penting untuk dipelajari. Pada pembahasan sebelumnya, saya sudah membahas mengenai metode sterilisasi panas dalam mikrobiologi. Pembahasan kali ini merupakan lanjutan dari metode sterilisasi panas tersebut. Metode sterlisasi kimia dilakukan pada alat dan bahan yang sensitif terhadap panas. Biasanya, alat dan bahan tersebut akan rusak jika disterilkan pada suhu tinggi.

Jenis-jenis Agen Antimikroba Kimiawi berdasarkan Keefektifannya

Kemampuan agen antimikroba kimiawi dikelompokkan berdasarkan efisiensinya dalam membunuh suatu mikroorganisme. Misalnya, seluruh agen germisida dikelompokkan dalam kategori tingkat tinggi karena efektif membunuh seluruh bentuk mikroorganisme, termasuk endospora bakteri. Agen kimiawi dengan kategori sedang didefinisikan dengan tuberkuloisidal karena mampu membunuh Mycobacterium tuberculosis dan umumnya efektif terhadap kebanyakan virus yang resisten seperti virus hepatitis dan rhinovirus. Agen kimiawi dengan kagori sedang ini tidak efektif dalam membunuh endospora bakteri. Agen kimiawi dengan kategori rendah tidak bersifat tuberkuloisidal, tidak efektif terhadap endospora bakteri, beberapa jenis spora fungi, serta naked virus (virus yang tidak memiliki amplop).
Metode sterilisasi kimia dapat dilakukan dengan menggunakan gas (fumigasi atau pengasapan) dan radiasi. beberapa bahan kimia yang dapat digunakan untuk sterilisasi gas adalah etilen oksida, gas formaldehid, asam parasetat, dan glutaraldehid alkalin. Sterilisasi kimia dapat juga dilakukan dengan penggunaan cairan desinfektan berupa senyawa aldehid, hipoklorit, fenolik, dan alkohol.

Mengenal Disinfektan Cair

Disinfektan cair memiliki daya antimikroba yang rendah dibandingkan dengan metode sterilisasi yang lain. Bakteri pembentuk spora dan beberapa virus resisten terhadap sterilisasi jenis ini. Beberapa disinfektan akan ternetralisir oleh bahan organik. Stabilitas larutan terbatas dan waktu penggunaan juga terbatas pada jenis disinfektan dan bagaimana cara disinfektan itu digunakan. Penggunaan disinfektan cair sebagai alat sterilisasi harus mempertimbangkan hal tersebut, begitu juga dengan hal keamanan bagi penggunanya. Disinfektan yang telah diencerkan dapat digunakan untuk disinfeksi ruangan dan peralatan. Biasanya, disinfeksi menggunakan cairan akan dilanjutkan dengan metode sterilisasi lainnya. Disinfeksi menggunakan cairan juga biasa dilakukan pada media yang sudah dipakai, lalu merebus media tersebut sampai mendidih, barulah media itu boleh dibuang ke lingkungan. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi pencemaran lingkungan yang mungkin bisa disebabkan oleh mikroorganisme pada media pertumbuhan mikroorganisme hasil penelitian kita.
Penggunaan disinfektan cair pada sterilisasi cawan Petri
Penggunaan disinfektan cair pada sterilisasi cawan Petri

Metode Sterilisasi Menggunakan Filterisasi dan Radiasi

Pada pembahasasan sebelumnya, saya sudah membahas mengenai metode sterilisasi panas. Pada pembahasan kali ini, saya akan membahas metode sterilisasi menggunakan filterisasi (penyaringan) dan radiasi. Salah satu contoh penggunaan metode sterilisasi  menggunakan filter dapat kalian lihat di LAF (Laminar Air Flow). Selanjutnya, contoh penggunaan metode sterilisasi menggunakan radiasi adalah penggunaan sinar UV di tempat pengisian air ulang. Jika kalian sering melihat ada lampu warna ungu di alat penyulingan air isi ulang, kemungkinan lampu tersebut adalah lampu UV yang berfungsi untuk membunuh mikroorganisme yang ada di dalam air. Tapi penting untuk kalian ketahui, tidak semua lampu ungu itu lampu UV yang mampu membunuh mikroorganisme.

Sterilisasi Menggunakan Filter

Seperti yang sudah saya kemukakan sebelumnya, salah satu contoh penggunaan metode sterilisasi menggunakan filter terdapat pada alat Laminar Air Flow. Metode sterilisasi menggunakan filter digunakan untuk mensterilkan bahan yang sensitif dengan panas, misalnya enzim. Membran filter yang digunakan untuk mensterilkan enzim biasanya terbuat selulosa asetat.  Prinsip kerja metode sterilisasi menggunakan membran selulosa asetat adalah memisahkan mikroorganisme dengan bahan yang bahan yang kita perlukan. Ada beberapa hal yang harus kalian ketahui mengenai penggunaan metode sterilisasi menggunakan membran selulosa asetat, seperti biayanya yang mahal, membrannya mudah tersumbat, dan kemungkinan lolosnya virus dari membran tersebut.
Selanjutnya, filter yang digunakan pada Laminar Air Flow adalah filter HEPA (high efficiency particulate air). Filter ini berguna untuk menyaring udara di area kerja mikrobiologis kalian dengan cara menyaring udara sehingga bebas debu dan mikroorganisme. Filter ini juga terdiri dari lipatan-lipatan selulosa asetat.
Penuangan media pertumbuhan bakteri menggunakan Laminar Air Flow
Penuangan media pertumbuhan bakteri menggunakan Laminar Air Flow untuk mencegah terjadinya kontaminasi

Sterilisasi Menggunakan Radiasi

Metode sterilisasi menggunakan radiasi dilakukan dengan menggunakan cahaya UV ataupun dengan menggunakan metode ionisasi (sinar gamma). Sinar UV dengan panjang gelombang 260 nm mampu berekasi dengan asam nukleat mikroorganisme. Sinar UV dapat menyebabkan terganggunya ikatan antara molekul-molekul timin yang bersebelahan dan menyebabkan terbentuknya dimer timin. Pada akhirnya, pembentukan dimer timin akan akan menghalangi replikasi DNA normal dengan menutup jalannya proses replikasi enzim. Dengan kata lain, sinar UV dapat merusak proses perkembangbiakan mikroorganisme, namun tidak berpengaruh pada endospora bakteri. Metode sterilisasi menggunakan radiasi biasa digunakan untuk mensterilkan ruangan.
Metode sterilisasi menggunakan ion (ionisasi) dapat mempenetrasi (menembus) jauh ke dalam suatu objek. Metode ionisasi yang sering digunakan adalah radiasi sinar gamma dari kobalt-60. Metode ini tidak dapat dilakukan di laboratorium biasa karena sifat dari sinar gamma sangat berbahaya bagi tubuh manusia. Sinar gamma lebih kuat daya tembusnya dibandingkan dengan sinar UV, sehingga cocok digunakan untuk mensterilkan bahan plastik sekali pakai, antibiotik, hormon, dan jarum suntik. Metode ionisasi ditujukan untuk merusak asam nukleat mikroorganisme.

Metode Sterilisasi Panas dalam Mikrobiologi

Pada artikel sebelumnya, saya sudah membahas mengenai Sterilisasi dalam mikrobiologi. Dari artikel tersebut, saya sudah menyinggung mengenai artikel kali ini mengenai metode sterilisasi panas dalam mikrobiologi. Metode sterilisasi panas merupakan metode yang termasuk ke dalam metode sterilisasi fisik dan paling banyak digunakan. Metode sterilisasi panas khusus digunakan untuk mensterilkan alat dan bahan yang tahan panas, misalnya bahan yang terbuat dari kaca dan aquadest. Metode sterilisasi panas dibagi menjadi dua, yaitu metode sterilisasi panas basah atau lembap dan metode sterilisasi panas kering. Metode sterilisasi panas kering.
Penggolongan sterilisasi panas dan kering ini didasarkan pada sensitifitas benda yang akan disterilkan. Jadi, jika suatu benda sensitif terhadap kelembapan, maka digunakan sterilisasi panas kering, begitu juga dengan jika suatu benda tahan terhadap kelembapan, maka digunakan sterilisasi panas basah.Kedua metode ini meiliki kesamaan, yaitu sama-sama menggunakan panas sebagai cara untuk mensterilkan. Yang berbeda adalah panas kering tidak menggunakan air, sedangkan panas basah menggunakan air dalam proses sterilisasinya.
Proses sterilisasi panas terdiri dari tiga tahap.

  • Tahap pemanasan (heating stage): peningkatan temperatur pada alat dan bahan yang akan disterilkan
  • Tahap sterilisasi (holding stage): tahap pendiaman. Artinya, tahap ini sudah mencapai temperatur yang diinginkan, selanjutnya adalah mendiamkan alat dan bahan tersebut berada pada temperatur tersebut pada waktu tertentu
  • Tahap pendinginan (cooling stage): penurunan suhu setelah alat dan bahan tersebut berapa pada temperatur dan suhu tertentu.

Sterilisasi Panas Kering dan Panas Basah

Sterilisasi panas kering berfungsi untuk meniadakan atau mematikan segala jenis mikroorganisme yang berada pada alat yang akan digunakan pada kegiatan mikrobiologi. Cara kerjanya adalah dengan mengoksidasi komponen sel atau mendenaturasi enzim. Metode ini tidak dapat digunakan untuk bahan yang terbuat dari karet, plastik, dan kaca yang tidak tahan panas. Waktu yang dibutuhkan sterilisasi ini sekitar 2 sampai 3 jam. Pada beberapa buku, metode ini dianggap memiliki penetrasi lemah. Hal tersebut dikarenakan oleh faktor yang digunakan untuk sterilisasi hanya panas saja. Seperti yang telah kalian ketahui, ada beberapa mikroorganisme yang mampu bertahan pada panas bukan? Selanjutnya, ada dua metode sterilisasi panas kering, yaitu insinerasi (inceniration), yaitu pembakaran langsung dengan menggunakan nyala api Bunsen (suhunya sekitar 350 derajat Celcius) dan dengan udara panas oven dengan temperatur yang berbeda-beda sesuai dengan merk dan tipe oven.
Sterilisasi panas basah memiliki faktor tambahan dalam hal sterilisasi, yaitu penggunaan uap air. Salah satu prakteknya adalah kalian merebus alat dan bahan yang telah dipakai pada kegiatan mikrobiologi, dengan tujuan membunuh semua mikroorganisme yang ada pada alat dan bahan tersebut agar tidak mengontaminasi lingkungan sekitar. Perebusan dapat dilakukan menggunakan air mendidih dengan suhu 100 derajat Celcius selama 10 menit. Hal tersebut cukup efektif untuk membunuh sel-sel vegetatif dan spora eukariot, namun tidak efektif untuk endospora bakteri. Sterilisasi panas basah digunakan untuk alat dan bahan yang sensitif panas.
Sterilisasi panas basah menggunakan autoklaf
Sterilisasi panas basah menggunakan autoklaf
Sterilisasi panas basah menggunakan temperatur di atas 100 derajat celcius dilakukan dengan menggunakan uap dengan bantuan autoklaf (gambar di atas). Prinsip kerja sterilisasi dari autoklaf adalah mempercepat proses koagulasi. Proses sterilisasi menggunakan autoklaf dapat membunuh mikroorganisme dengan cara mendenaturasi atau mengkoagulasi protein pada enzim dan membran sel mikroorganisme. Proses sterilisasi menggunakan autoklaf dapat membunuh endospora bakteri. Tipe-tipe autoklaf adalah portable bench top, gravity displacement, dan multicycle porous-load.


Faktor yang Mempengaruhi Resistensi Mikroorganisme terhadap Panas

Resistensi mikroorganisme terhadap panas bervariasi tergantung dari spesiesnya. Perbedaan ini dikenal dengan konsep thermal dead point (TDP), yaitu temperatur terendah dimana seluruh mikroorganisme pada suspensi cair akan mati dalam jangka waktu 10 menit.
Faktor lain yang perlu diperhatikan juga pada sterilisasi panas adalah thermal dead time (TDT), yaitu waktu minimal yang diperlukan oleh seluruh bakteri pada kultur cair untuk mati pada temperatur tertentu. Jadi, TDP dan TDT dapat dijadikan petunjuk yang sangat berguna untuk indikasi kekuatan perlakuan panas yang diperlukan untuk membunuh populasi mikroorganisme.
Konsep lain yang berhubungan dengan resistensi bakteri terhadap panas adalah decimal reduction time (DRT) atau nilai D (D value), yaitu waktu (menit) dimana 90% populasi mikroorganisme pada temperatur tertentu yang dicobakan akan terbunuh. DRT berguna pada industri pengalengan makanan. Nilai Z (Z value) adalah peningkatan temperatur yang diperlukan untuk menurunkan nilai D suatu organisme sebesar 90% (1 log cycle reduction).

Bagaimana pengaruh waktu, temperatur, dan tekanan pada penggunaan autoklaf? Silahkan perhatikan tabel berikut.

Siklus standar autoklaf

Temperatur ('C) Waktu (menit) Tekanan (bar) Kesintasan Waktu Ekuivalen
115 30 0,7 1 dalam 10^4 60
121 15 1.0 1 dalam 10^8 15
126 10 1,4 1 dalam 10^16 4,7
134 3 2,0 1 dalam 10^32 0,8

Berasarkan tabel di atas, kalian dapat melihat bahwa temperatur, waktu, dan tekanan saling berpengaruh antara satu dengan yang lainnya.

Pengertian Sterilisasi dalam Mikrobiologi

Sterilisasi adalah proses yang sangat penting dalam dunia mikrobiologi. Sterilisasi adalah proses menghilangkan segala jenis organisme hidup, dalam hal ini adalah segala jenis mikroorganisme baik itu protozoa, fungi, bakteri, mycoplasma, dan virus yang terdapat pada suatu benda. Proses sterilisasi membutuhkan biocidal agent ataupun proses fisik untuk membunuh atau menghilangkan mikroorganisme tersebut.

Sterilisasi harus diatur sedemikian rupa dan tepat untuk membunuh atau menghilangkan mikroorganisme. Metode sterilisasi harus disesuaikan dengan target yang akan disterilisasi dan tipe mikroorganismenya. Zat kimia untuk sterilisasi disebut dengan sterilant.

Adapun istilah lainnya untuk sterilisasi adalah disinfeksi, yang artinya adalah proses pembunuhan atau penghilangan mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyakit. Zat disinfeksi disebut dengan disinfektan, yang biasanya terdiri dari zat kimiawi dan digunakan pada objek tak hidup. Salah satu contoh dari zat disifenktan adalah alkohol 70%.

Hal lainnya yang berhubungan dengan sterilisasi adalah sanitasi. Proses sanitasi adalah proses pengurangan atau reduksi populasi mikroorganisme sampai mencapai tingkatan yang dianggap aman oleh standar kesehatan masyarakat. Zat sanitasi disebut dengan sanitizer. Contoh sanitizer adalah zat yang digunakan untuk membersihkan tangan sebelum kalian makan.

Selanjutnya, proses yang masih berhubungan dengan sterilisasi adalah antisepsis. Antisepsis adalah proses pencegahan infeksi atau mematikan mikroorganisme dengan cara kimia. Zat antisepsis disebut dengan antiseptik. Proses ini tidak merusak jaringan inang dan tidak lebih toksik dari disinfektan. Antiseptik yang bersifat membunuh mikroorganisme umumnya memiliki nama akhiran -sida (cide). Contohnya adalah  germisida (germicide) yang dapat membunuh banyak patogen tetapi tidak berefek pada endospora bakteri, bakterisida, fungisida, algisida, dan virusida. Sedangkan antiseptik yang tidak bersifat membunuh mikroorganisme maka zat tersebut hanya berfungsi untuk menghambat pertumbuhan mikroorganismenya saja, umumnya memiliki nama akhiran -statik (static). Contohnya dalah fungistatik dan bakteriostatik.

Seperti yang telah dijelaskan di atas, setiap mikroorganisme memiliki sensivitas yang berbeda-beda terhadap metode sterilisasi. Misalnya endospora bakteri resisten (tahan) terhadap panas, iradiasi, dan detergen; virus tanpa envelope resisten terhadap pelarut organik dan detergen; mycoplasma dan virus tidak dapat dihilangkan dengan filter steril yang memiliki ukuran pori 0.2 um.

Hal-hal yang mempengaruhi efisiensi metode sterilisasi dan efektivitas agen mikroba adalah sebagai berikut 
  • Ukuran populasi mikroorganisme
  • Komposisi populasi mikroorganisme
  • Konsentrasi atau intensitas agen antimikroba
  • Lama paparan
  • Temperatur
  • Lingkungan sekitar

Metode sterilisasi dapat dibagi menjadi dua, yaitu metode sterilisasi fisik dan metode sterilisasi kimia. Metode sterilisasi fisik dilakukan dengan menggunakan panas (baik panas kering dan panas basah), radiasi dan filtrasi. Metode sterilisasi kimia dilakukan dengan menggunakan zat-zat kimia.
Sterilisasi fisik panas kering menggunakan Bunsen
Sterilisasi fisik panas kering menggunakan Bunsen

Cara Mendapatkan Kultur Murni melalui Proses Pemindahan Mikroorganisme Secara Aseptik

Media yang mengandung mikroorganisme disebut dengan kultur. Jika kultur tersebut hanya terdiri dari satu jenis mikroorganisme maka disebut dengan kultur murni. Proses pemindahan mikroorganisme merupakan tahap yang sangat penting dalam proses identifikasi. Pemindahan mikroorganisme dari lingkungan awal ke lingkungan yang kita inginkan harus dilakukan secara aseptik, tanpa terkontaminasi, baik oleh perbuatan kalian sendiri, orang lain, lingkungan, sumber inokulasi, ataupun media tujuan inokulasi. Untuk melakukan proses identifikasi, kalian pasti menginginkan media kultur yang murni, bukan? Nah, untuk mendapatkan kultur murni tersebut, silahkan perhatikan beberapa point berikut.

Persiapan Proses Pemindahan Mikroorganisme Secara Aseptik

  • Sterilisasi alat-alat yang digunakan. Sebelum menggunakan alat-alat yang akan digunakan pada proses pemindahan mikroorganisme, kalian harus melakukakan mensterilkan alat-alat tersebut. Metode sterilisasi yang kalian gunakan harus sesuai dengan dengan alat yang kalian gunakan, misalnya, untuk sterilisasi alat yang terbuat dari kaca seperti tabung reaksi, kalian bisa menggunakan oven (sterilisasi kering). Begitu juga dengan alat-alat lainya
Persiapan Sterilisasi Cawan Petri
  • Sterilisasi Ruangan Laboratorium. Sterilisasi ruangan laboratorium sangat penting. Salah satu persyaratan ruangan laboratorium mikrobiologi yang baik adalah memiliki aliran udara satu arah (one way), yaitu udara hanya mengalir ke luar ruangan saja. Proses ini dapat dibantu dengan menggunakan system AC Central. Penggunaan AC Split tidak direkomendasikan pada ruangan laboratorium mikrobiologi karena dapat menjadi sumber kontaminan. Selanjutnya, ruangan dapat disinari dengan menggunakan sinar UV selama 15 menit. Setelah itu ruangan tersebut dapat digunakan untuk kegiatan penelitian mikrobiologi
  • Kurangi Potensi Terjadinya Kontaminasi. Lakukan proses pemindahan mikroorganisme menggunakan ruangan khusus dan menggunakan bantuan Laminar air Flow. Jangan pernah melakukan pemindahan mikroorganisme di ruangan terbuka dan terdapat aliran udara, kecuali aliran udara laminar air flow. Sebelum melakukan pemindahan mikroorganisme, pastikan ruangan sudah disterilkan menggunakan UV. Begitu juga dengan laminar air flow. Pastikan laminar air flow yang akan kalian gunakan sudah benar-benar bersih dan steril. Kalian bisa menyemprot beberapa bagian dalam laminar air flow menggunakan alcohol sebelum menyalakan laminar air flow
  • Tertib. Sebelum melakukan proses pemindahan, kalian harus membuat tata laksana proses pemindahan tersebut, atau paling tidak, kalian sudah memikirkan tahap-tahap yang akan kalian lakukan. Hal ini sangat penting karena dapat meningkatkan keefektifan waktu dan tenaga yang kalian butuhkan
Setelah point-point di atas sudah kalian penuhi, maka kemungkinan keberhasilan untuk mendapatkan kultur murni akan semakin besar. Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, kultur murni hanya terdiri dari satu jenis mikroorganisme saja. Jika hasil pemindahan mikrooganisme kalian menghasilkan beberapa jenis mikroorganisme, maka proses pemindahan kalian dapat dikatakan tidak berhasil. Untuk itu, dalam melakukan proses pemindahan ini, jangan membuat satu cawan Petri saja untuk satu jenis mikroorganisme. Biasanya, saya menggunakan tiga cawan Petri untuk satu jenis mikroorganisme pada proses pemindahan bakteri. Ada juga yang menganjurkan mengggunakan 5 cawan Petri. Pemilihan penggunaan jumlah cawan Petri ini harus kalian sesuaikan dengan ketersedian jumlah cawan petri di laboratorium kalian masing-masing.

Demikianlah pembahasan saya mengenai cara mendapatkan kultur murni melalui Proses Pemindahan Mikroorganisme. Jika ada bagian yang masih belum jelas, silahkan bertanya pada kolom komentar yang tersedia di bawah ini.